Akibatnya, di beberapa negara berkembang di Asia seperti Korea Selatan (Korsel) dan China, terjadi aliran arus uang panas yang sangat deras. Jika tidak diatur, aliran uang panas ini justru akan menimbulkan masalah baru dan menciptakan ketidakstabilan di kawasan Asia.
Untuk mencegah hal itu, Korsel, Minggu (13/6), mengumumkan kontrol mata uang. Tujuannya adalah mencegah terjadinya perubahan arus aliran modal terkait utang luar negeri jangka pendek dan berpotensi berisiko besar.
Bahaya dari aliran uang panas itu adalah jika dana-dana sempat dipakai untuk modal jangka pendek dengan risiko ditarik secara mendadak. Asia sudah mengalami bahaya dari fenomena ini pada tahun 1997.
Otoritas moneter di Korsel menyatakan telah melihat adanya aliran deras won dalam pasar yang sedang terguncang karena masalah utang Eropa.
Aturan baru itu menyatakan pembatasan bagi transaksi derivatif, antara lain adalah transaksi forward di bank atau pada institusi finansial lainnya. Transaksi ini menyangkut spekulasi dengan pertaruhan naik turunnya indeks harga-harga saham, kurs, dan obligasi yang berisiko tinggi.
Pembatasan juga dibatasi terhadap transaksi swap berbagai mata uang, cross currency swap. Pembatasan juga dilakukan terhadap non-deliverable forward (NDF), yaitu transaksi soal rentang kurs mata uang yang telah ditentukan harganya pada suatu waktu tertentu, yang jika meleset, si pelaku investasi bisa merugi.
Transaksi-transaksi sejenis ini sangat rentan membuat guncangan pada nilai tukar sebuah mata uang. ”Langkah pelarangan ini bertujuan mengurangi gejolak arus modal yang mungkin akan menimbulkan risiko sistemik di negara ini,” demikian pernyataan Departemen Keuangan dan Bank Sentral Korsel.
Sementara itu, ekspor China sejauh ini belum terpengaruh oleh masalah utang di Eropa. Akan tetapi, para analis mengatakan, dalam beberapa bulan ke depan pasti ada dampak dari krisis di Eropa itu.
Juru bicara Departemen Perdagangan China, Yao Jian, Sabtu (12/6), mengatakan, Uni Eropa adalah tujuan ekspor terbesar China. ”China akan terus memantau keadaan di Eropa dan dampaknya terhadap ekspor China dua atau tiga bulan ke depan, khususnya pasar utama seperti Jerman, Spanyol, dan Inggris,” katanya.
Surplus perdagangan China ke Eropa naik tajam hingga 19,53 miliar dollar AS dari surplus April yang hanya sebesar 1,68 miliar dollar AS. Surplus itu juga
”Kami juga memahami ada pihak-pihak di AS yang telah menggunakan data statistik ini untuk mencuatkan isu kurs mata uang,” kata Yao. ”Beberapa pihak di AS telah mengatakan, kurs yuan harus diperhitungkan ke dalam pengenaan sanksi antidumping dan antisubsidi,” katanya.
Penetapan kurs yuan dianggap terlalu rendah oleh AS, dan ini lagi-lagi dianggap sebagai subsidi terselubung bagi eksportir China.
Sementara itu, kekhawatiran bahwa krisis utang di zona euro dapat memengaruhi negara zona euro lain yang lebih kuat, membuat Perancis harus membayar lebih tinggi keuntungan bagi pemegang obligasi negara itu.
Di pasar finansial, obligasi Pemerintah Jerman bertenor 10 tahun saat ini memiliki imbal hasil sebesar 2,560 persen, sedangkan obligasi Perancis harus membayar lebih tinggi, yakni 3,015 persen.
Para analis mengatakan, investor pembeli obligasi ingin agar Perancis melakukan penghematan anggaran. Perancis sama sekali belum mengumumkan soal pengetatan anggaran. Diperkirakan, defisit anggaran Perancis akan melembung hingga delapan persen dari produk domestik bruto (PDB), jauh di atas batasan maksimal 3 persen.
Sebaliknya, Jerman telah mengumumkan pemangkasan sekitar 86 miliar euro anggaran pemerintah hingga tahun 2014 dengan tujuan membuat negara itu akan mengalami defisit anggaran pemerintah nol persen dari PDB.