Anjing gila

Seluruh Wilayah Bali Diduga Terpapar Rabies

Kompas.com - 08/07/2010, 04:30 WIB

Denpasar, Kompas - Seorang bocah laki-laki asal Desa Yeh Sumbul, Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, PVR (8) meninggal dengan dugaan terkena rabies.

Jika pemeriksaan laboratorium nantinya mengonfirmasi kebenaran atas dugaan itu, berarti seluruh wilayah di Pulau Bali telah terpapar rabies sejak ditemukan pertama kali di Kabupaten Badung pada semester kedua tahun 2008.

Bocah yang masih duduk di kelas III SD itu dinyatakan meninggal hanya kurang dari sejam setelah tiba di RSUP Sanglah, Denpasar, hari Sabtu (3/7) pekan lalu.

Ia dirujuk dari RSUD Negara, Jembrana, sekitar 100 kilometer dari Kota Denpasar. Keluarganya mengungkapkan, PVR punya riwayat digigit anjing sekitar sebulan lalu dan ketika meninggal didapati keluar busa dari mulutnya.

Hanya selang sehari setelah kematian PVR, korban tewas dengan dugaan rabies kembali bertambah. Yakni, korban NWR (50), perempuan asal Perasi Kelod, Karangasem.

Mirip dengan korban sebelumnya, NWR dinyatakan meninggal hanya beberapa jam setelah dirujuk ke Sanglah dari Karangasem.

Dengan tambahan dua korban itu, berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Provinsi Bali, kini total terdapat 74 warga tewas dengan dugaan rabies di seluruh Bali, 36 orang di antaranya terkonfirmasi positif rabies lewat pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan laboratorium

Kepala Humas RSUP Sanglah dr Putra Wibawa menyatakan, hasil pemeriksaan laboratorium akan memastikan penyebab kematian keduanya. Gejala klinis yang ditemukan pada PVR berupa gejala salivasi (mulut berbusa) dapat juga ditemukan pada penderita ayan (epilepsi).

”Jadi, sekali lagi itu harus dibuktikan dengan hasil tes laboratorium. Semua saat ini masih dugaan,” kata Putra di Denpasar, Rabu (7/7). Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan keluar akhir pekan ini.

Keterangan senada diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Bali dr Nyoman Sutedja. Pada korban PVR tidak ditemukan adanya gejala klinis lain yang mengarah ke rabies kecuali gejala salivasi.

”Tidak ada gejala takut air ataupun cahaya. Condongnya ke arah infeksi saja, temperatur badannya sangat tinggi hingga 40 derajat celsius,” kata Sutedja.

Praktisi hewan, mantan penyidik di Balai Penyidikan Penyakit Hewan pada Balai Wilayah VI Denpasar, drh Son Soeharsono, mengaku masih menangkap kesan lambannya penanganan terhadap pasien dengan kasus gigitan anjing, sekaligus menyesalkan tidak diberikannya vaksin antirabies (VAR) pada korban PVR beberapa saat setelah digigit anjing. Alasannya, sebagaimana diungkapkan Humas RSUP Sanglah, Jembrana, masih bebas rabies.

”Ini bukti kelengahan aparat kesehatan sekaligus tragis bagi kita semua. Saya anggap Bali adalah satu kesatuan wilayah untuk masalah rabies karena bicara soal batas adalah pemisah alami seperti laut sehingga tidak memberikan VAR karena daerah itu bebas, sungguh tidak masuk akal,” kata Son.

Menurut dia, target pemerintah tahun 2012 Bali bebas rabies harus ditinjau ulang.

Ia meragukan ada tidaknya peta penularan dan kelengkapan data mengenai jumlah anjing yang sudah divaksinasi dan dieliminasi, terutama dikaitkan dengan kelahiran anjing yang tersisa di Bali saat ini.

Pada saat yang sama, Sutedja mengakui, stok VAR di beberapa kabupaten/kota Denpasar saat ini kosong. Stok VAR hanya tersedia di RSUP Sanglah dan Kabupaten Gianyar sebanyak 2.000 dosis. (BEN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau