Denpasar, Kompas -
Jika pemeriksaan laboratorium nantinya mengonfirmasi kebenaran atas dugaan itu, berarti seluruh wilayah di Pulau Bali telah terpapar rabies sejak ditemukan pertama kali di Kabupaten Badung pada semester kedua tahun 2008.
Bocah yang masih duduk di kelas III SD itu dinyatakan meninggal hanya kurang dari sejam setelah tiba di RSUP Sanglah, Denpasar, hari Sabtu (3/7) pekan lalu.
Ia dirujuk dari RSUD Negara, Jembrana, sekitar 100 kilometer dari Kota Denpasar. Keluarganya mengungkapkan, PVR punya riwayat digigit anjing sekitar sebulan lalu dan ketika meninggal didapati keluar busa dari mulutnya.
Hanya selang sehari setelah kematian PVR, korban tewas dengan dugaan rabies kembali bertambah. Yakni, korban NWR (50), perempuan asal Perasi Kelod, Karangasem.
Mirip dengan korban sebelumnya, NWR dinyatakan meninggal hanya beberapa jam setelah dirujuk ke Sanglah dari Karangasem.
Dengan tambahan dua korban itu, berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Provinsi Bali, kini total terdapat 74 warga tewas dengan dugaan rabies di seluruh Bali, 36 orang di antaranya terkonfirmasi positif rabies lewat pemeriksaan laboratorium.
Kepala Humas RSUP Sanglah dr Putra Wibawa menyatakan, hasil pemeriksaan laboratorium akan memastikan penyebab kematian keduanya. Gejala klinis yang ditemukan pada PVR berupa gejala salivasi (mulut berbusa) dapat juga ditemukan pada penderita ayan (epilepsi).
”Jadi, sekali lagi itu harus dibuktikan dengan hasil tes laboratorium. Semua saat ini masih dugaan,” kata Putra di Denpasar, Rabu (7/7). Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan keluar akhir pekan ini.
Keterangan senada diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Bali dr Nyoman Sutedja. Pada korban PVR tidak ditemukan adanya gejala klinis lain yang mengarah ke rabies kecuali gejala salivasi.
”Tidak ada gejala takut air ataupun cahaya. Condongnya ke arah infeksi saja, temperatur badannya sangat tinggi hingga 40 derajat celsius,” kata Sutedja.
Praktisi hewan, mantan penyidik di Balai Penyidikan Penyakit Hewan pada Balai Wilayah VI Denpasar, drh Son Soeharsono, mengaku masih menangkap kesan lambannya penanganan terhadap pasien dengan kasus gigitan anjing, sekaligus menyesalkan tidak diberikannya vaksin antirabies (VAR) pada korban PVR beberapa saat setelah digigit anjing. Alasannya, sebagaimana diungkapkan Humas RSUP Sanglah, Jembrana, masih bebas rabies.
”Ini bukti kelengahan aparat kesehatan sekaligus tragis bagi kita semua. Saya anggap Bali adalah satu kesatuan wilayah untuk masalah rabies karena bicara soal batas adalah pemisah alami seperti laut sehingga tidak memberikan VAR karena daerah itu bebas, sungguh tidak masuk akal,” kata Son.
Menurut dia, target pemerintah tahun 2012 Bali bebas rabies harus ditinjau ulang.
Ia meragukan ada tidaknya peta penularan dan kelengkapan data mengenai jumlah anjing yang sudah divaksinasi dan dieliminasi, terutama dikaitkan dengan kelahiran anjing yang tersisa di Bali saat ini.
Pada saat yang sama, Sutedja mengakui, stok VAR di beberapa kabupaten/kota Denpasar saat ini kosong. Stok VAR hanya tersedia di RSUP Sanglah dan Kabupaten Gianyar sebanyak 2.000 dosis.