”Status masih awas,” kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Dia mengatakan, kekuatan letusan ini jauh lebih besar daripada sebelumnya. Penumpukan energi yang terjadi setelah letusan terakhir, Senin lalu, membuat kekuatannya menjadi berlipat. Catatan PVMBG, kegiatan vulkanik di tubuh gunung mulai meningkat drastis sejak pukul 19.30 WIB, Kamis lalu.
Sejak Jumat dini hari seluruh penduduk yang tersisa di daerah rawan I bencana, seperti Desa Suka Nebi, Desa Suka Nalu, dan Desa Guru Kinayan, dievakuasi. Hal yang sama juga terjadi pada para petugas keamanan, baik dari Brigade Mobil maupun TNI. Beberapa truk hilir mudik mengangkut para petugas keamanan. Tidak jarang warga menumpang kendaraan tersebut karena tidak ada sarana transportasi untuk mengangkut mereka keluar dari daerah tersebut.
Letusan terjadi sekitar pukul 04.38 WIB. Dua-tiga menit sebelum letusan, suara gemuruh sudah mulai terasa. Begitu juga dengan getaran yang mencapai hingga radius 6 kilometer lebih.
Para penduduk yang masih tersisa segera meninggalkan tempat tersebut menggunakan kendaraan yang dimiliki.
Surono menjelaskan, meski letusan yang terjadi lebih besar, tidak berarti aktivitas gunung terhenti. dalam catatannya, tremor atau kegiatan vulkanik di dalam tubuh gunung masih terus berlangsung. Embusan debu vulkanik juga masih terus terjadi. Tim PVMBG, kata Surono, membutuhkan waktu untuk melakukan pengamatan lebih lanjut terhadap kondisi gunung, baik deformasi tubuh gunung, gempa embusan, dan gempa vulkanik susulan.
Lebih lanjut dia menjelaskan, pemantauan pasca-letusan menunjukkan aktivitas tremor dan gempa vulkanik yang tinggi. Menurutnya, dengan kondisi tersebut, sangat riskan baginya untuk menurunkan tingkat kebahayaan Sinabung.
”Kalau aktivitas gempa vulkanik turun, gunung mengempis dan gempa embusan turun, status bisa diturunkan. Yang terjadi masih belum seperti itu. Kami butuh waktu untuk mengamati kondisi gunung pasca-letusan,” jelasnya.
Mengenai penumpukan gas di sekitar Kota Kabanjahe dan Berastagi pasca-letusan, yang membentuk semacam lapisan pelindung di dua kawasan tersebut, Surono mengaku belum meneliti lebih lanjut.
Beberapa jam sebelum letusan, beberapa warga yang dihubungi mengaku akan tetap bertahan di desa mereka.
David, warga Desa Naman, Kecamatan Naman Teram, Kabupaten Karo, mengaku tidak percaya dengan kondisi kekinian gunung tersebut.