Status Sinabung Tetap Awas

Kompas.com - 04/09/2010, 04:19 WIB

Kabanjahe, Kompas - Sekitar pukul 04.38 WIB, Jumat (3/9), Gunung Sinabung meletus kembali. Dibandingkan dengan kekuatan letusan sebelumnya, menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, kekuatan letusan pagi itu jauh lebih besar. Meski demikian, masih ada warga yang bertahan di zona rawan.

”Status masih awas,” kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Dia mengatakan, kekuatan letusan ini jauh lebih besar daripada sebelumnya. Penumpukan energi yang terjadi setelah letusan terakhir, Senin lalu, membuat kekuatannya menjadi berlipat. Catatan PVMBG, kegiatan vulkanik di tubuh gunung mulai meningkat drastis sejak pukul 19.30 WIB, Kamis lalu.

Sejak Jumat dini hari seluruh penduduk yang tersisa di daerah rawan I bencana, seperti Desa Suka Nebi, Desa Suka Nalu, dan Desa Guru Kinayan, dievakuasi. Hal yang sama juga terjadi pada para petugas keamanan, baik dari Brigade Mobil maupun TNI. Beberapa truk hilir mudik mengangkut para petugas keamanan. Tidak jarang warga menumpang kendaraan tersebut karena tidak ada sarana transportasi untuk mengangkut mereka keluar dari daerah tersebut.

Letusan terjadi sekitar pukul 04.38 WIB. Dua-tiga menit sebelum letusan, suara gemuruh sudah mulai terasa. Begitu juga dengan getaran yang mencapai hingga radius 6 kilometer lebih.

Para penduduk yang masih tersisa segera meninggalkan tempat tersebut menggunakan kendaraan yang dimiliki.

Surono menjelaskan, meski letusan yang terjadi lebih besar, tidak berarti aktivitas gunung terhenti. dalam catatannya, tremor atau kegiatan vulkanik di dalam tubuh gunung masih terus berlangsung. Embusan debu vulkanik juga masih terus terjadi. Tim PVMBG, kata Surono, membutuhkan waktu untuk melakukan pengamatan lebih lanjut terhadap kondisi gunung, baik deformasi tubuh gunung, gempa embusan, dan gempa vulkanik susulan.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pemantauan pasca-letusan menunjukkan aktivitas tremor dan gempa vulkanik yang tinggi. Menurutnya, dengan kondisi tersebut, sangat riskan baginya untuk menurunkan tingkat kebahayaan Sinabung.

”Kalau aktivitas gempa vulkanik turun, gunung mengempis dan gempa embusan turun, status bisa diturunkan. Yang terjadi masih belum seperti itu. Kami butuh waktu untuk mengamati kondisi gunung pasca-letusan,” jelasnya.

Belum meneliti

Mengenai penumpukan gas di sekitar Kota Kabanjahe dan Berastagi pasca-letusan, yang membentuk semacam lapisan pelindung di dua kawasan tersebut, Surono mengaku belum meneliti lebih lanjut.

Beberapa jam sebelum letusan, beberapa warga yang dihubungi mengaku akan tetap bertahan di desa mereka.

David, warga Desa Naman, Kecamatan Naman Teram, Kabupaten Karo, mengaku tidak percaya dengan kondisi kekinian gunung tersebut. (MHD/MHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau