Demikian dijelaskan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono di sela simposium dan sosialisasi tentang konektivitas ASEAN di Ho Chi Minh City, Vietnam, akhir pekan lalu.
Koridor ekonomi merupakan pendekatan pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dalam suatu struktur ruang spasial atau kewilayahan di Indonesia.
Adapun konektivitas ASEAN (ASEAN Connectivity) adalah inisiatif untuk meningkatkan konektivitas di antara negara anggota ASEAN melalui keterhubungan fisik, kelembagaan, dan orang ke orang.
Di tempat terpisah, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pembangunan Jembatan Selat Malaka yang menghubungkan Dumai, Riau, dengan Malaka di Malaysia akan menyedot sumber daya alam di Pulau Sumatera ke wilayah Malaysia yang sudah lebih dahulu menyelesaikan pembangunan koridor ekonominya.
Pemerintah Indonesia hanya akan mengizinkan pembangunan jembatan itu jika semua proses pembangunan koridor ekonomi di seluruh Sumatera dan Jawa barat laut sudah tuntas.
”Kita harus mengatur kepentingan dan strategi nasional. Jangan sampai koridor belum terbentuk di Sumatera timur dan Jawa bagian barat laut, kita sudah terhubung. Jika itu terjadi, seluruh komoditas kita akan bergerak ke Malaysia. Kami perkirakan akan banyak industri yang mati,” ujar Hatta Rajasa.
Bambang menjelaskan, terdapat enam koridor ekonomi yang akan dikembangkan di Indonesia, yakni koridor timur Sumatera dan utara Jawa Barat (TSUJB), koridor pantai utara (pantura) Jawa, koridor Kalimantan, koridor Sulawesi; koridor Papua, dan koridor timur Jawa-Bali-Nusa Tenggara. Dua koridor akan dijadikan proyek percontohan, yakni TSUJB dan pantura.
Untuk pengembangan koridor TSUJB keseluruhan, idealnya diperlukan 44 proyek infrastruktur senilai 52,9 miliar dollar AS dengan rincian pengembangan jalan kereta api 17,1 miliar dollar AS, jalan tol 18,1 miliar dollar AS, infrastruktur transportasi mencakup bandara, pelabuhan, dan fasilitas logistik darat 4,3 miliar dollar AS, serta infrastruktur pendukung lain.
Adapun untuk koridor pantura, simpul-simpul jalur logistik yang akan dikembangkan meliputi pengembangan pelabuhan- pelabuhan di Tanjung Priok, Jakarta, dan Tanjung Perak, Surabaya; pembangunan jalur jalan bebas hambatan trans-Jawa; serta pembangunan jalur KA trans- Jawa.
Untuk induk koridor pantura, idealnya dibutuhkan 65 proyek infrastruktur senilai 36,2 miliar dollar AS. Jadi, lanjut Bambang, diperlukan dana cukup besar untuk pengembangan infrastruktur kedua koridor tersebut.
”Indonesia akan mendapat giliran sebagai Ketua ASEAN tahun 2011. Kita akan memanfaatkan ini untuk mengintegrasikan inisiatif koridor ekonomi dan konektivitas ASEAN,” ujarnya.
Saat ini sudah terkumpul dana 647 juta dollar AS, setara Rp 6 triliun pada dana bersama ASEAN yang sumbernya berasal dari negara ASEAN sendiri, Bank Pembangunan Asia, Jepang, dan investasi negara maju lainnya.
Jumlah ini akan terus bertambah mengingat sejumlah lembaga keuangan dan negara maju telah berkomitmen mendukung konektivitas ASEAN.
Dalam rencana induk konektivitas ASEAN tahun 2010, ada sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia yang masuk dalam konektivitas ASEAN, seperti rencana pembangunan jaringan kereta api Kunming (China)-Singapura-Surabaya.
Pengembangan jaringan kapal laut roll-on roll-off, interkoneksi jalur energi Malaka-Pekanbaru dan Kalimantan Barat-Serawak, serta pelayanan terintegrasi 47 pelabuhan di ASEAN dengan 17 pelabuhan di antaranya di Indonesia.