Integrasi Koridor Ekonomi ASEAN

Kompas.com - 20/12/2010, 03:33 WIB

Jakarta, Kompas - Sebagian proyek infrastruktur yang masuk dalam rencana pengembangan koridor ekonomi Indonesia akan diintegrasikan dalam masterplan konektivitas ASEAN. Dengan demikian, potensi sumber dana untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia semakin besar.

Demikian dijelaskan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono di sela simposium dan sosialisasi tentang konektivitas ASEAN di Ho Chi Minh City, Vietnam, akhir pekan lalu.

Koridor ekonomi merupakan pendekatan pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dalam suatu struktur ruang spasial atau kewilayahan di Indonesia.

Adapun konektivitas ASEAN (ASEAN Connectivity) adalah inisiatif untuk meningkatkan konektivitas di antara negara anggota ASEAN melalui keterhubungan fisik, kelembagaan, dan orang ke orang.

Di tempat terpisah, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pembangunan Jembatan Selat Malaka yang menghubungkan Dumai, Riau, dengan Malaka di Malaysia akan menyedot sumber daya alam di Pulau Sumatera ke wilayah Malaysia yang sudah lebih dahulu menyelesaikan pembangunan koridor ekonominya.

Pemerintah Indonesia hanya akan mengizinkan pembangunan jembatan itu jika semua proses pembangunan koridor ekonomi di seluruh Sumatera dan Jawa barat laut sudah tuntas.

”Kita harus mengatur kepentingan dan strategi nasional. Jangan sampai koridor belum terbentuk di Sumatera timur dan Jawa bagian barat laut, kita sudah terhubung. Jika itu terjadi, seluruh komoditas kita akan bergerak ke Malaysia. Kami perkirakan akan banyak industri yang mati,” ujar Hatta Rajasa.

Bambang menjelaskan, terdapat enam koridor ekonomi yang akan dikembangkan di Indonesia, yakni koridor timur Sumatera dan utara Jawa Barat (TSUJB), koridor pantai utara (pantura) Jawa, koridor Kalimantan, koridor Sulawesi; koridor Papua, dan koridor timur Jawa-Bali-Nusa Tenggara. Dua koridor akan dijadikan proyek percontohan, yakni TSUJB dan pantura.

Untuk pengembangan koridor TSUJB keseluruhan, idealnya diperlukan 44 proyek infrastruktur senilai 52,9 miliar dollar AS dengan rincian pengembangan jalan kereta api 17,1 miliar dollar AS, jalan tol 18,1 miliar dollar AS, infrastruktur transportasi mencakup bandara, pelabuhan, dan fasilitas logistik darat 4,3 miliar dollar AS, serta infrastruktur pendukung lain.

Adapun untuk koridor pantura, simpul-simpul jalur logistik yang akan dikembangkan meliputi pengembangan pelabuhan- pelabuhan di Tanjung Priok, Jakarta, dan Tanjung Perak, Surabaya; pembangunan jalur jalan bebas hambatan trans-Jawa; serta pembangunan jalur KA trans- Jawa.

Untuk induk koridor pantura, idealnya dibutuhkan 65 proyek infrastruktur senilai 36,2 miliar dollar AS. Jadi, lanjut Bambang, diperlukan dana cukup besar untuk pengembangan infrastruktur kedua koridor tersebut.

”Indonesia akan mendapat giliran sebagai Ketua ASEAN tahun 2011. Kita akan memanfaatkan ini untuk mengintegrasikan inisiatif koridor ekonomi dan konektivitas ASEAN,” ujarnya.

Saat ini sudah terkumpul dana 647 juta dollar AS, setara Rp 6 triliun pada dana bersama ASEAN yang sumbernya berasal dari negara ASEAN sendiri, Bank Pembangunan Asia, Jepang, dan investasi negara maju lainnya.

Jumlah ini akan terus bertambah mengingat sejumlah lembaga keuangan dan negara maju telah berkomitmen mendukung konektivitas ASEAN.

Dalam rencana induk konektivitas ASEAN tahun 2010, ada sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia yang masuk dalam konektivitas ASEAN, seperti rencana pembangunan jaringan kereta api Kunming (China)-Singapura-Surabaya.

Pengembangan jaringan kapal laut roll-on roll-off, interkoneksi jalur energi Malaka-Pekanbaru dan Kalimantan Barat-Serawak, serta pelayanan terintegrasi 47 pelabuhan di ASEAN dengan 17 pelabuhan di antaranya di Indonesia.

(OIN/Fajar Marta, dari Vietnam)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau