Meski berdalih bahwa tindakan tersebut untuk menyaring atlet yang benar-benar berprestasi, yang terjadi justru banyak atlet yang berpotensi emas kini terdepak dari daftar.
Sehari sebelum pengukuhan, Kamis, beberapa pengurus cabang justru menyadari bahwa daftar atlet yang mereka ajukan dikurangi oleh KONI. Atlet yang masuk program pelatda berjumlah 1.052 orang atau berkurang 255 nama. Umumnya setiap cabang olahraga kehilangan 8-10 nama atlet karena dicoret sepihak oleh KONI.
Kontan saja, hal tersebut menyebabkan suasana kantor KONI Jabar sedikit ramai karena pengurus cabang olahraga secara bergantian mencari pengurus bagian pembinaan prestasi. Sewaktu bertemu Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Ucup Yusup, dia hanya mengangkat kedua tangan sambil berlalu seraya berkata, ”No comment,” kepada para pengurus.
”KONI tidak berkoordinasi dengan kami untuk nama-nama pemain yang dicoret. Saya kini bingung menjelaskan kepada atlet,” ujar Sekretaris Pengurus Provinsi Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Jabar Bambang Sapto Prasetyo.
Dia menyebut beberapa pemain basket yang memiliki potensi untuk menjadi anggota tim, seperti Chaeranny Riezka Utami. Riezka yang kini berusia 17 tahun menjadi pemain terbaik dalam kejuaraan nasional basket dan mengikuti program berlatih ke Amerika.
Selain Riezka, Bambang juga menunjuk nama Adiyanto Achmad Caesar yang dicoret. Padahal, pemain berusia 20 tahun ini sudah membela klub Satria Muda Britama di ajang Liga Basket Nasional (NBL).
Nasib serupa dialami cabang olahraga dayung. Dari 95 nama yang diusulkan, hanya 79 nama yang disetujui.
”Padahal, jumlah atlet yang diajukan cabang dayung justru sudah direncanakan matang dan tidak bisa diutak-atik lagi,”
Cabang olahraga tinju menyiasati pencoretan itu dengan tidak membeberkan nama atlet yang dicoret, yakni delapan orang dari 30 nama yang diusulkan. Ketua Harian Pengprov Persatuan Tinju Amatir Indonesia As Aidil Ashar menuturkan, uang saku yang diterima 22 nama akan dibagi untuk 30 orang.
Ketua II KONI Jabar Yudha M Saputra menuturkan, pencoretan dilakukan untuk menyaring nama atlet dari 150 persen menjadi mendekati 100 persen. Membengkaknya jumlah atlet peserta pelatda ternyata disertai masuknya atlet yang tidak kompeten.
”Untuk mempersingkat waktu, kami mencoret sendiri dengan kriteria prestasi sebelumnya, potensi medali, dan umur,” kata Yudha.
Januari 2011, lanjut Yudha, pihaknya akan menggelar seleksi lagi yang sekaligus memverifikasi atlet yang sudah terdaftar ini. Pengurus provinsi bisa kembali mengajukan atlet yang mereka anggap pantas.