KONI Coret Atlet Pelatda

Kompas.com - 24/12/2010, 09:35 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Menjelang pengukuhan pemusatan latihan daerah untuk Pekan Olahraga Nasional 2012 Riau, Jumat (24/12), KONI Jawa Barat mencoret sejumlah atlet yang diusulkan pengurus cabang olahraga.

Meski berdalih bahwa tindakan tersebut untuk menyaring atlet yang benar-benar berprestasi, yang terjadi justru banyak atlet yang berpotensi emas kini terdepak dari daftar.

Sehari sebelum pengukuhan, Kamis, beberapa pengurus cabang justru menyadari bahwa daftar atlet yang mereka ajukan dikurangi oleh KONI. Atlet yang masuk program pelatda berjumlah 1.052 orang atau berkurang 255 nama. Umumnya setiap cabang olahraga kehilangan 8-10 nama atlet karena dicoret sepihak oleh KONI.

Kontan saja, hal tersebut menyebabkan suasana kantor KONI Jabar sedikit ramai karena pengurus cabang olahraga secara bergantian mencari pengurus bagian pembinaan prestasi. Sewaktu bertemu Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Ucup Yusup, dia hanya mengangkat kedua tangan sambil berlalu seraya berkata, ”No comment,” kepada para pengurus.

”KONI tidak berkoordinasi dengan kami untuk nama-nama pemain yang dicoret. Saya kini bingung menjelaskan kepada atlet,” ujar Sekretaris Pengurus Provinsi Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Jabar Bambang Sapto Prasetyo.

Potensi

Dia menyebut beberapa pemain basket yang memiliki potensi untuk menjadi anggota tim, seperti Chaeranny Riezka Utami. Riezka yang kini berusia 17 tahun menjadi pemain terbaik dalam kejuaraan nasional basket dan mengikuti program berlatih ke Amerika.

Selain Riezka, Bambang juga menunjuk nama Adiyanto Achmad Caesar yang dicoret. Padahal, pemain berusia 20 tahun ini sudah membela klub Satria Muda Britama di ajang Liga Basket Nasional (NBL).

Nasib serupa dialami cabang olahraga dayung. Dari 95 nama yang diusulkan, hanya 79 nama yang disetujui.

”Padahal, jumlah atlet yang diajukan cabang dayung justru sudah direncanakan matang dan tidak bisa diutak-atik lagi,” ujar Ketua Pengprov Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia Jabar Dede Rochmat Nurjaya.

Cabang olahraga tinju menyiasati pencoretan itu dengan tidak membeberkan nama atlet yang dicoret, yakni delapan orang dari 30 nama yang diusulkan. Ketua Harian Pengprov Persatuan Tinju Amatir Indonesia As Aidil Ashar menuturkan, uang saku yang diterima 22 nama akan dibagi untuk 30 orang.

Ketua II KONI Jabar Yudha M Saputra menuturkan, pencoretan dilakukan untuk menyaring nama atlet dari 150 persen menjadi mendekati 100 persen. Membengkaknya jumlah atlet peserta pelatda ternyata disertai masuknya atlet yang tidak kompeten.

”Untuk mempersingkat waktu, kami mencoret sendiri dengan kriteria prestasi sebelumnya, potensi medali, dan umur,” kata Yudha.

Januari 2011, lanjut Yudha, pihaknya akan menggelar seleksi lagi yang sekaligus memverifikasi atlet yang sudah terdaftar ini. Pengurus provinsi bisa kembali mengajukan atlet yang mereka anggap pantas. (eld)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau