Mogok Nasional Usir Gbagbo

Kompas.com - 28/12/2010, 03:00 WIB

Abijan, Senin - Kubu presiden terpilih Pantai Gading, Alassane Ouattara, menyerukan agar warga, Senin (27/12), melakukan aksi mogok nasional untuk mengusir pemimpin petahana, Laurent Gbagbo, yang membangkang. Kubu Gbagbo menyatakan siap melawan.

Seruan untuk melakukan aksi mogok nasional itu muncul setelah blok ekonomi regional Afrika Barat (Ecowas) memaksa Gbagbo turun. RHDP, partai koalisi pendukung Ouattara, mengulangi seruan sebelumnya agar warga tetap mendukung Ouattara yang telah terpilih dengan meraih mayoritas suara, 54,1 persen, pada pemilu 28 November lalu.

Sekalipun ada desakan komunitas internasional, termasuk dari Ecowas, Gbagbo yang didukung militer dan polisi negara tidak sedikit pun bergeming. Hal itu disampaikannya dalam sebuah wawancara dengan Associated Press Television News pada hari Minggu. Ia bahkan mengatakan, setiap upaya menggulingkan kekuasaannya sama artinya membawa Pantai Gading ke dalam perang saudara yang lebih sengit.

Intervensi militer

Bersamaan dengan itu pula, hari Senin, telah tumbuh rasa takut di kalangan warga sipil terhadap kemungkinan adanya intervensi militer regional. Puluhan orang berkumpul di luar Kedutaan Besar Nigeria di Abijan, mengusung spanduk berbunyi antara lain ”Kami tidak ingin intervensi militer” dan ”Biarkan warga Pantai Gading memecahkan masalahnya sendiri”.

Nigeria memang termasuk negara di Afrika Barat yang memiliki tentara terkuat di kawasan ini. Diperkirakan tentara Nigeria memainkan peran utamanya jika operasi diluncurkan untuk menyingkirkan Gbagbo. Warga dengan tegas menolak setiap intervensi militer.

Warga berunjuk rasa mengungkapkan rasa khawatirnya. Mereka takut akan menjadi target serangan operasi militer jika tentara Nigeria dan negara tetangga lainnya terlibat dalam krisis politik nasional. Tiga presiden dari blok ekonomi regional, Ecowas, bermaksud akan bertolak ke Abijan minggu ini untuk menekan Gbagbo. Namun, Gbagbo yang meraih suara 45,9 persen dalam pemilu putaran kedua, 28 November, tetap menolak campur tangan asing itu.

Kemelut di Pantai Gading berawal dari pengumuman hasil pemilu oleh Komisi Pemilu Nasional pada 2 Desember. Saat itu komisi mengatakan, tokoh oposisi Ouattara unggul dengan meraih 54,1 persen mengalahkan calon petahana, Presiden Gbagbo. Hasil itu ditolak oleh kubu Gbagbo karena mereka menilai Ouattara melakukan kecurangan.

Gbagbo diperkuat lagi oleh Mahkamah Konstitusi—yang memiliki kata akhir atas sengketa pemilu—yang menganulir kemenangan tokoh oposisi. Bahkan, Gbagbo langsung dilantik sebagai presiden dan membentuk kabinetnya. Tidak kalah sengitnya, Ouattara melantik dirinya pada 4 Desember yang diikuti pembentukan kabinet tandingan.

PBB, Uni Eropa, Uni Afrika, dan Ecowas serta negara adidaya AS menegaskan bahwa Ouattara berhak menduduki kursi presiden karena terpilih secara sah. AS bahkan telah memberlakukan larangan bepergian dengan menangkal Gbagbo dan semua anggota kabinetnya. Bahkan, jika ada keluarga Gbagbo yang diketahui sedang bermukim di AS akan dideportasi ke Pantai Gading.

Menurut analis Afrika, Peter Pham, kecil kemungkinan Ecowas serius menangani konflik politik di Pantai Gading. Juga kecil kemungkinan untuk pasukan penjaga perdamaian di negara itu terlibat di dalam menyelesaikan konflik. Berbeda halnya jika pecah perang saudara.

Pantai Gading sebenarnya sudah mulai pulih dari luka akibat perang saudara pada tahun 2002 dan 2003. Pasukan perdamaian PBB di Pantai Gading mulai beroperasi untuk memulihkan sejak usai perang saudara hingga kini.

Sengketa politik terkait hasil pemilu presiden telah membuka kembali luka lama di negeri itu. Kepentingan politik golongan telah mengabaikan stabilitas ekonomi, sosial, dan keamanan di negara penghasil kakao terbesar di dunia itu. (AFP/AP/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau