PLN Kurangi Konsumsi BBM

Kompas.com - 07/01/2011, 04:19 WIB

Jakarta, Kompas - Tahun 2011, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menargetkan pengurangan konsumsi bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik sebesar satu juta kiloliter. Penurunan konsumsi BBM ini diharapkan bisa menghemat subsidi listrik Rp 6 triliun.

Menurut Direktur Utama PT PLN Dahlan Iskan, Kamis (6/1) di Jakarta, penurunan tingkat konsumsi BBM itu tidak terkait tren kenaikan harga minyak dunia.

”Kami mempunyai program, pada tahun 2011 pemakaian BBM akan turun paling sedikit 1 juta kiloliter. Tahun depannya lagi, konsumsi berkurang minimal 1 juta kl,” ujarnya.

Direktur Energi Primer PT PLN Nur Pamudji menjelaskan, pada 2010 konsumsi BBM untuk pembangkit 9,1 juta kl. Untuk tahun ini, konsumsi BBM direncanakan 8 juta kl. ”Dengan mengurangi konsumsi BBM 1 juta kl, subsidi listrik bisa dihemat Rp 6 triliun,” kata Nur Pamudji.

Biaya pokok produksi PLN, jika memakai gas, rata-rata Rp 318 per kWh, jika memakai BBM Rp 1.383 per kWh, dan jika memakai batu bara Rp 362 per kWh.

Dengan beroperasinya sejumlah PLTU berbasis batu bara yang jadi bagian dari proyek percepatan pembangunan pembangkit 10.000 megawatt (MW) pada tahun ini, konsumsi BBM ditargetkan berkurang 1 juta kl.

Komposisinya, konsumsi BBM turun dari 25,3 persen pada 2010 jadi 21,7 persen pada 2011, konsumsi batu bara naik dari 42,6 persen tahun sebelumnya jadi 47,4 persen tahun ini, persentase pemakaian gas alam naik dari 21,8 persen jadi 22 persen.

Sebagai contoh, Rembang selama ini dipasok daya dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tambak Lorok berkapasitas 2 x 500 MW di Semarang yang menggunakan BBM.

Dengan beroperasinya PLTU Rembang (2 x 315 MW), hal itu akan menggantikan pasokan daya dari PLTGU Tambak Lorok sehingga konsumsi BBM akan berkurang.

Dengan demikian, mesin pembangkit PLTGU Tambak Lorok akan diistirahatkan. ”Mesin-mesin pembangkit PLTGU di sejumlah tempat baru akan difungsikan kembali jika ada pertumbuhan konsumsi tenaga listrik,” kata Nur Pamudji.

Selain itu, PLTGU tersebut bisa jadi cadangan jika ada gangguan teknis pada PLTU yang baru beroperasi. Pembangkit yang baru beroperasi, lanjut Nur Pamudji, akan selalu mengalami gangguan sementara. Dalam masa-masa penyesuaian, saat ada gangguan, beberapa mesin PLTGU akan jadi unit cadangan.

Pembunuhan berencana

Dahlan menambahkan, pengurangan konsumsi BBM akan dilakukan dengan memanfaatkan pasokan daya dari PLTU Suralaya dan Paiton.

Kapasitas daya dua pembangkit itu besar karena itu listrik yang dihasilkan akan dikirim lewat sistem jaringan 500 kilovolt ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Selama ini pasokan daya untuk Surabaya mengambil dari jaringan 500 kV itu, sedangkan listrik di Semarang mengambil dari PLTGU Tambak Lorok 1.000 MW. Jakarta tidak banyak mengambil tenaga listrik dari jaringan 500 kV itu, sebagian besar daya dipasok dari PLTGU Muara Karang, PLTGU Tanjung Priok, dan PLTGU Muara Tawar.

Sejumlah PLTGU itu memakai BBM sebagai bahan bakar. Atas dasar itu, PLN membuat gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) Ungaran.

Selain itu, PLN juga menambah satu trafo interbus transformer (IBT) hingga jadi tiga trafo IBT. Jadi, nantinya Semarang mengambil stok 500 kV dan bisa memasok daya 400 MW sehingga produksi listrik dari PLTGU Tambak Lorok bisa berkurang 400 MW dan salah satu mesinnya dimatikan.

Semarang juga akan mendapat tambahan pasokan daya dari PLTU Rembang sekitar 600 MW. Ini berarti pada pertengahan 2011, PLTGU Tambak Lorok bisa langsung dimatikan semua mesin pembangkitnya yang selama ini memakai BBM.

”Ini saya sebut pembunuhan berencana. Tambak Lorok dimatikan dan akan dijadikan cadangan saja jika ada gangguan listrik atau GITET meledak,” ujarnya.

Cara serupa juga akan dilakukan untuk Jakarta. ”Jadi nanti akan ada tambahan trafo IBT, yakni di Gandul, Bekasi, Cibatu, Depok, dan sejumlah GITET lain,” kata Dahlan. (EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau