Menurut Direktur Utama PT PLN Dahlan Iskan, Kamis (6/1) di Jakarta, penurunan tingkat konsumsi BBM itu tidak terkait tren kenaikan harga minyak dunia.
”Kami mempunyai program, pada tahun 2011 pemakaian BBM akan turun paling sedikit 1 juta kiloliter. Tahun depannya lagi, konsumsi berkurang minimal 1 juta kl,” ujarnya.
Direktur Energi Primer PT PLN Nur Pamudji menjelaskan, pada 2010 konsumsi BBM untuk pembangkit 9,1 juta kl. Untuk tahun ini, konsumsi BBM direncanakan 8 juta kl. ”Dengan mengurangi konsumsi BBM 1 juta kl, subsidi listrik bisa dihemat Rp 6 triliun,” kata Nur Pamudji.
Biaya pokok produksi PLN, jika memakai gas, rata-rata Rp 318 per kWh, jika memakai BBM Rp 1.383 per kWh, dan jika memakai batu bara Rp 362 per kWh.
Dengan beroperasinya sejumlah PLTU berbasis batu bara yang jadi bagian dari proyek percepatan pembangunan pembangkit 10.000 megawatt (MW) pada tahun ini, konsumsi BBM ditargetkan berkurang 1 juta kl.
Komposisinya, konsumsi BBM turun dari 25,3 persen pada 2010 jadi 21,7 persen pada 2011, konsumsi batu bara naik dari 42,6 persen tahun sebelumnya jadi 47,4 persen tahun ini, persentase pemakaian gas alam naik dari 21,8 persen jadi 22 persen.
Sebagai contoh, Rembang selama ini dipasok daya dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tambak Lorok berkapasitas 2 x 500 MW di Semarang yang menggunakan BBM.
Dengan beroperasinya PLTU Rembang (2 x 315 MW), hal itu akan menggantikan pasokan daya dari PLTGU Tambak Lorok sehingga konsumsi BBM akan berkurang.
Dengan demikian, mesin pembangkit PLTGU Tambak Lorok akan diistirahatkan. ”Mesin-mesin pembangkit PLTGU di sejumlah tempat baru akan difungsikan kembali jika ada pertumbuhan konsumsi tenaga listrik,” kata Nur Pamudji.
Selain itu, PLTGU tersebut bisa jadi cadangan jika ada gangguan teknis pada PLTU yang baru beroperasi. Pembangkit yang baru beroperasi, lanjut Nur Pamudji, akan selalu mengalami gangguan sementara. Dalam masa-masa penyesuaian, saat ada gangguan, beberapa mesin PLTGU akan jadi unit cadangan.
Dahlan menambahkan, pengurangan konsumsi BBM akan dilakukan dengan memanfaatkan pasokan daya dari PLTU Suralaya dan Paiton.
Kapasitas daya dua pembangkit itu besar karena itu listrik yang dihasilkan akan dikirim lewat sistem jaringan 500 kilovolt ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Selama ini pasokan daya untuk Surabaya mengambil dari jaringan 500 kV itu, sedangkan listrik di Semarang mengambil dari PLTGU Tambak Lorok 1.000 MW. Jakarta tidak banyak mengambil tenaga listrik dari jaringan 500 kV itu, sebagian besar daya dipasok dari PLTGU Muara Karang, PLTGU Tanjung Priok, dan PLTGU Muara Tawar.
Sejumlah PLTGU itu memakai BBM sebagai bahan bakar. Atas dasar itu, PLN membuat gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) Ungaran.
Selain itu, PLN juga menambah satu trafo interbus transformer (IBT) hingga jadi tiga trafo IBT. Jadi, nantinya Semarang mengambil stok 500 kV dan bisa memasok daya 400 MW sehingga produksi listrik dari PLTGU Tambak Lorok bisa berkurang 400 MW dan salah satu mesinnya dimatikan.
Semarang juga akan mendapat tambahan pasokan daya dari PLTU Rembang sekitar 600 MW. Ini berarti pada pertengahan 2011, PLTGU Tambak Lorok bisa langsung dimatikan semua mesin pembangkitnya yang selama ini memakai BBM.
”Ini saya sebut pembunuhan berencana. Tambak Lorok dimatikan dan akan dijadikan cadangan saja jika ada gangguan listrik atau GITET meledak,” ujarnya.
Cara serupa juga akan dilakukan untuk Jakarta. ”Jadi nanti akan ada tambahan trafo IBT, yakni di Gandul, Bekasi, Cibatu, Depok, dan sejumlah GITET lain,” kata Dahlan.