Sambil memandang anak-anak sekolah sepak bola Senayan Star Shadow berlatih di bawah pimpinan mantan gelandang tim nasional 1982-1989 Patar Tambunan, Pranowo, seorang pegawai pengelola Gelora Senayan, menggugat persepakbolaan nasional.
”Dari sini mereka jadi apa? Apa ada yang jadi pemain nasional? Selama ini, saya belum dengar ada yang jadi. Mengurusnya saja seperti ini. Ada Liga Super Indonesia (LSI), ada
Liga Primer Indonesia (LPI)-lah. Mau dibawa ke mana kita?” tanya laki-laki asal Jawa Tengah itu saat berbincang-bincang dengan Kompas di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta, Selasa (8/3).
Pesimistis? Ya, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Pranowo.
LPI, yang semula dianggap harapan baru, oleh Ketua Umum PSSI Nurdin justru ditolak mentah-mentah. Wadah kompetisi yang dipelopori pengusaha nasional Arifin Panigoro itu tak hanya dianggap ilegal, tetapi juga di luar sistem. Bahkan, Nurdin meminta KONI mengambil sikap.
Mengapa PSSI melarang LPI hanya karena dianggap tidak prosedural, menyaingi, dan tidak di bawah kendalinya? Padahal LPI, seperti halnya LSI, adalah ajang yang sama untuk menghasilkan pemain terbaik bagi tim nasional.
Meski tak diakui PSSI, kompetisi LPI yang dimulai awal Januari lalu tetap berlangsung. Kehadiran LPI menandai babak baru kompetisi sepak bola Indonesia yang selama ini tanpa prestasi, tetapi sarat masalah. Oleh karena itu, kehadiran
LPI seperti ingin mengoreksi sepak terjang PSSI. ”Tak hanya wasit yang dibenahi, kompetisi LPI pun tak bisa dipermainkan. Diharapkan tak ada lagi tekanan, pesanan, atau intervensi pihak lain. Wasit menjadi penting dan LPI mengundang wasit berlisensi FIFA,” ujar Juru Bicara LPI Abi Hasantoso.
Dalam hal pendanaan, LPI juga mencoba mandiri. Dana APBD kini diharamkan oleh LPI. ”LPI punya mimpi, jika kompetisi mapan, saham klub bisa dijual ke pasar modal sehingga komposisi saham PT LPI 100 persen dimiliki klub,” kata Abi.
Salah satu kritik yang diajukan Nurdin kepada LPI di antaranya adalah soal latar belakang pemain LPI yang sebelumnya amatir tiba-tiba menjadi profesional. ”Bagaimana kualitas mereka jika jenjangnya seperti itu?” tanya Nurdin pekan lalu.
Namun, Nurdin lupa. Dalam soal pembinaan, PSSI punya semangat besar, tetapi tak berdaya. Meskipun wadah organisasi Badan Pembinaan Usia Dini sudah ada, hingga kini tak terdengar langkah-langkahnya. Tak heran, ketika Liga Kompas Gramedia U-14 ikut berpartisipasi seperti halnya LPI, tanpa meminta persetujuan dan hanya mengirimkan surat pemberitahuan, PSSI tidak memasalahkan.
Sambil menanamkan kejujuran dan kedisiplinan, Liga Kompas Gramedia U-14 ingin ikut menyiapkan kematangan tak hanya dari sisi usia, tetapi juga kematangan teknis dan integritas.
Selain harus dilanjutkan dari kompetisi ke kompetisi secara berjenjang, pembinaan usia dini juga harus disertai pembentukan pusat pengembangan pemain muda. ”Jika Liga Kompas Gramedia U-14 berjalan baik, kami harap bisa membentuk centre of excellence dengan riset dan pengembangan agar kontinuitas terjaga, ” ujar Ketua Umum Liga Kompas Gramedia U-14 Anton Sanjoyo.
Mantan manajer timnas 1991, IGK Manila, mengakui, pembinaan lanjutan setelah usia 14 tahun sampai 21 tahun masih terputus. Sulit mengandalkan PSSI kecuali adanya partisipasi pihak lain. Patar Tambunan juga mengusulkan pendirian kembali pusat pendidikan dan latihan setelah kompetisi
dijalankan agar bibit itu tak hilang.