Kompetisi sepak bola

Berharap pada Pembinaan Usia Muda

Kompas.com - 11/03/2011, 05:34 WIB

Sambil memandang anak-anak sekolah sepak bola Senayan Star Shadow berlatih di bawah pimpinan mantan gelandang tim nasional 1982-1989 Patar Tambunan, Pranowo, seorang pegawai pengelola Gelora Senayan, menggugat persepakbolaan nasional.

”Dari sini mereka jadi apa? Apa ada yang jadi pemain nasional? Selama ini, saya belum dengar ada yang jadi. Mengurusnya saja seperti ini. Ada Liga Super Indonesia (LSI), ada

Liga Primer Indonesia (LPI)-lah. Mau dibawa ke mana kita?” tanya laki-laki asal Jawa Tengah itu saat berbincang-bincang dengan Kompas di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta, Selasa (8/3).

Pesimistis? Ya, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Pranowo.

LPI, yang semula dianggap harapan baru, oleh Ketua Umum PSSI Nurdin justru ditolak mentah-mentah. Wadah kompetisi yang dipelopori pengusaha nasional Arifin Panigoro itu tak hanya dianggap ilegal, tetapi juga di luar sistem. Bahkan, Nurdin meminta KONI mengambil sikap.

Mengapa PSSI melarang LPI hanya karena dianggap tidak prosedural, menyaingi, dan tidak di bawah kendalinya? Padahal LPI, seperti halnya LSI, adalah ajang yang sama untuk menghasilkan pemain terbaik bagi tim nasional.

Meski tak diakui PSSI, kompetisi LPI yang dimulai awal Januari lalu tetap berlangsung. Kehadiran LPI menandai babak baru kompetisi sepak bola Indonesia yang selama ini tanpa prestasi, tetapi sarat masalah. Oleh karena itu, kehadiran

LPI seperti ingin mengoreksi sepak terjang PSSI. ”Tak hanya wasit yang dibenahi, kompetisi LPI pun tak bisa dipermainkan. Diharapkan tak ada lagi tekanan, pesanan, atau intervensi pihak lain. Wasit menjadi penting dan LPI mengundang wasit berlisensi FIFA,” ujar Juru Bicara LPI Abi Hasantoso.

Dalam hal pendanaan, LPI juga mencoba mandiri. Dana APBD kini diharamkan oleh LPI. ”LPI punya mimpi, jika kompetisi mapan, saham klub bisa dijual ke pasar modal sehingga komposisi saham PT LPI 100 persen dimiliki klub,” kata Abi.

Salah satu kritik yang diajukan Nurdin kepada LPI di antaranya adalah soal latar belakang pemain LPI yang sebelumnya amatir tiba-tiba menjadi profesional. ”Bagaimana kualitas mereka jika jenjangnya seperti itu?” tanya Nurdin pekan lalu.

Namun, Nurdin lupa. Dalam soal pembinaan, PSSI punya semangat besar, tetapi tak berdaya. Meskipun wadah organisasi Badan Pembinaan Usia Dini sudah ada, hingga kini tak terdengar langkah-langkahnya. Tak heran, ketika Liga Kompas Gramedia U-14 ikut berpartisipasi seperti halnya LPI, tanpa meminta persetujuan dan hanya mengirimkan surat pemberitahuan, PSSI tidak memasalahkan.

Sambil menanamkan kejujuran dan kedisiplinan, Liga Kompas Gramedia U-14 ingin ikut menyiapkan kematangan tak hanya dari sisi usia, tetapi juga kematangan teknis dan integritas.

Selain harus dilanjutkan dari kompetisi ke kompetisi secara berjenjang, pembinaan usia dini juga harus disertai pembentukan pusat pengembangan pemain muda. ”Jika Liga Kompas Gramedia U-14 berjalan baik, kami harap bisa membentuk centre of excellence dengan riset dan pengembangan agar kontinuitas terjaga, ” ujar Ketua Umum Liga Kompas Gramedia U-14 Anton Sanjoyo.

Mantan manajer timnas 1991, IGK Manila, mengakui, pembinaan lanjutan setelah usia 14 tahun sampai 21 tahun masih terputus. Sulit mengandalkan PSSI kecuali adanya partisipasi pihak lain. Patar Tambunan juga mengusulkan pendirian kembali pusat pendidikan dan latihan setelah kompetisi

dijalankan agar bibit itu tak hilang.

(dot/adp/har)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau