MESUJI, KOMPAS -
Bahkan, sepanjang Sabtu (23/4) para warga Desa Sei Sodong diimbau untuk tidak keluar desa.
Menurut pantauan Kompas, hingga hari kedua setelah bentrokan yang menewaskan tujuh orang itu, kondisi di desa terpencil tersebut masih mencekam. Sejumlah warga pria tampak berjaga di pintu masuk desa yang diportal dengan sebatang kayu. Kompleks perumahan pegawai perusahaan kelapa sawit PT Sumber Wangi Alam (SWA) yang diserbu warga Sei Sodong tiga hari lalu itu tampak lengang karena seluruh pegawai masih mengungsi.
Kepala Desa Sei Sodong Maonah Pringgayudha mengatakan, sejak bentrokan itu, pihaknya mengimbau warga desa agar tak keluar dari desa. Imbauan itu bertujuan mencegah konflik lanjutan yang masih dapat terjadi karena potensi ketegangan masih relatif tinggi.
”Warga masih terbawa emosi, sedangkan dari luar desa masih banyak pemeriksaan yang dapat memancing emosi warga,” katanya.
Ia juga khawatir terhadap kemungkinan munculnya pengeroyokan lagi seperti yang terjadi pada dua warga sampai tewas.
Desa Sei Sodong dihuni sekitar 1.700 warga yang seluruhnya masih dalam hunbungan kerabat. Lokasi desa itu cukup terisolasi, diapit oleh perkebunan sawit dan Sungai Sodong. Satu-satunya jalur darat menuju desa di perbatasan Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung itu adalah jalan tanah yang berlumpur sekitar 40 kilometer dari jalur lintas timur Sumatera. Konflik lahan antara warga dan PT SWA telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.
Menurut Maonah, warga desa belum bisa menerima kematian dua warganya, yaitu Syafei (18) dan Macan (19), akibat pengeroyokan pada Kamis lalu. Warga menduga ada keterlibatan oknum aparat dalam pengeroyokan tersebut. Pasalnya, terdapat tiga lubang peluru pada tubuh Syafei.
”Tanda-tandanya mirip tembakan dari senapan laras panjang,” tuturnya.
Maonah menuturkan, Macan yang masih hidup saat ditemukan menyebutkan bahwa pengeroyokan dilakukan orang-orang berseragam keamanan PT SWA di Blok 19 kebun sawit PT SWA. Kejadian ini memicu kemarahan warga.
Seperti diberitakan sebelumnya, warga menyerbu kompleks PT SWA dua kali. Serangan pertama menewaskan petugas satpam PT SWA dan serangan kedua menewaskan empat pegawai PT SWA. Warga desa juga merusak belasan rumah, setidaknya tujuh kendaraan operasional, dan membakar satu sepeda motor di lokasi bentrokan.
Terkait hal itu, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Sumatera Selatan Kombes Sabaruddin Ginting mengatakan, aparat Brigade Mobil (Brimob) telah diturunkan untuk berjaga di sekitar PT SWA. Selain jalur hukum, penyelesaian sengketa lahan yang menjadi akar permasalahan akan diupayakan.
Kejadian ini merupakan reaksi warga desa akibat konflik lahan yang kedua kalinya terjadi di Sumatera Selatan dalam sebulan terakhir. Pada awal April, pembakaran aset perusahaan perkebunan sawit oleh warga desa terjadi di Kabupaten Banyuasin. Tak ada korban jiwa dalam kejadian itu.
Secara terpisah, Kepala Divisi Pengembangan Sumberdaya Organisasi Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Selatan Hadi Jatmiko mengatakan, konflik lahan di Sumsel semakin tajam karena porsi lahan semakin tidak berimbang.
”Semakin banyak lahan digunakan untuk pertambangan serta perkebunan sehingga alokasi lahan untuk masyarakat menciut,” kata Hadi.
Menurut data Walhi Sumatera Selatan, dari sekitar 8,7 juta hektar lahan di Sumsel, hanya sekitar 2 juta hektar yang dialokasikan untuk masyarakat. Sekitar 4 juta hektar digunakan untuk perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) dengan luas mencapai sekitar 4 juta hektar. Adapun sekitar 2,4 juta hektar lahan lainnya digunakan untuk pertambangan batu bara. (IRE)