Warga Sei Sodong Masih Siaga

Kompas.com - 24/04/2011, 03:12 WIB

MESUJI, KOMPAS - Pascabentrokan dengan pegawai perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Sumber Wangi Alam pada Kamis lalu, warga Desa Sei Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, menutup akses ke desa mereka. Selain terus berjaga-jaga, mereka juga memeriksa setiap orang asing yang datang ke desa tersebut.

Bahkan, sepanjang Sabtu (23/4) para warga Desa Sei Sodong diimbau untuk tidak keluar desa.

Menurut pantauan Kompas, hingga hari kedua setelah bentrokan yang menewaskan tujuh orang itu, kondisi di desa terpencil tersebut masih mencekam. Sejumlah warga pria tampak berjaga di pintu masuk desa yang diportal dengan sebatang kayu. Kompleks perumahan pegawai perusahaan kelapa sawit PT Sumber Wangi Alam (SWA) yang diserbu warga Sei Sodong tiga hari lalu itu tampak lengang karena seluruh pegawai masih mengungsi.

Kepala Desa Sei Sodong Maonah Pringgayudha mengatakan, sejak bentrokan itu, pihaknya mengimbau warga desa agar tak keluar dari desa. Imbauan itu bertujuan mencegah konflik lanjutan yang masih dapat terjadi karena potensi ketegangan masih relatif tinggi.

”Warga masih terbawa emosi, sedangkan dari luar desa masih banyak pemeriksaan yang dapat memancing emosi warga,” katanya.

Ia juga khawatir terhadap kemungkinan munculnya pengeroyokan lagi seperti yang terjadi pada dua warga sampai tewas.

Desa Sei Sodong dihuni sekitar 1.700 warga yang seluruhnya masih dalam hunbungan kerabat. Lokasi desa itu cukup terisolasi, diapit oleh perkebunan sawit dan Sungai Sodong. Satu-satunya jalur darat menuju desa di perbatasan Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung itu adalah jalan tanah yang berlumpur sekitar 40 kilometer dari jalur lintas timur Sumatera. Konflik lahan antara warga dan PT SWA telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

Oknum aparat

Menurut Maonah, warga desa belum bisa menerima kematian dua warganya, yaitu Syafei (18) dan Macan (19), akibat pengeroyokan pada Kamis lalu. Warga menduga ada keterlibatan oknum aparat dalam pengeroyokan tersebut. Pasalnya, terdapat tiga lubang peluru pada tubuh Syafei.

”Tanda-tandanya mirip tembakan dari senapan laras panjang,” tuturnya.

Maonah menuturkan, Macan yang masih hidup saat ditemukan menyebutkan bahwa pengeroyokan dilakukan orang-orang berseragam keamanan PT SWA di Blok 19 kebun sawit PT SWA. Kejadian ini memicu kemarahan warga.

Seperti diberitakan sebelumnya, warga menyerbu kompleks PT SWA dua kali. Serangan pertama menewaskan petugas satpam PT SWA dan serangan kedua menewaskan empat pegawai PT SWA. Warga desa juga merusak belasan rumah, setidaknya tujuh kendaraan operasional, dan membakar satu sepeda motor di lokasi bentrokan.

Sengketa lahan

Terkait hal itu, Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Sumatera Selatan Kombes Sabaruddin Ginting mengatakan, aparat Brigade Mobil (Brimob) telah diturunkan untuk berjaga di sekitar PT SWA. Selain jalur hukum, penyelesaian sengketa lahan yang menjadi akar permasalahan akan diupayakan.

Kejadian ini merupakan reaksi warga desa akibat konflik lahan yang kedua kalinya terjadi di Sumatera Selatan dalam sebulan terakhir. Pada awal April, pembakaran aset perusahaan perkebunan sawit oleh warga desa terjadi di Kabupaten Banyuasin. Tak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Secara terpisah, Kepala Divisi Pengembangan Sumberdaya Organisasi Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Selatan Hadi Jatmiko mengatakan, konflik lahan di Sumsel semakin tajam karena porsi lahan semakin tidak berimbang.

”Semakin banyak lahan digunakan untuk pertambangan serta perkebunan sehingga alokasi lahan untuk masyarakat menciut,” kata Hadi.

Menurut data Walhi Sumatera Selatan, dari sekitar 8,7 juta hektar lahan di Sumsel, hanya sekitar 2 juta hektar yang dialokasikan untuk masyarakat. Sekitar 4 juta hektar digunakan untuk perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) dengan luas mencapai sekitar 4 juta hektar. Adapun sekitar 2,4 juta hektar lahan lainnya digunakan untuk pertambangan batu bara. (IRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau