Sail wakatobi belitong

Mendorong Pengembangan Pariwisata Bahari

Kompas.com - 09/06/2011, 03:42 WIB

Jakarta, Kompas - Setelah sukses menggelar Sail Bunaken dan Sail Banda dua tahun terakhir, pemerintah menggelar Sail Wakatobi Belitong tahun 2011 ini. Melibatkan 27 kementerian dan pemerintah daerah terkait, acara tersebut diharapkan mendorong pengembangan wisata bahari.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, dalam peluncuran acara tersebut, Selasa (7/6), mengatakan, Sail Wakatobi Belitong (SWB) akan dimeriahkan dengan serangkaian acara, antara lain pernikahan massal di bawah laut di Sulawesi Tenggara, reli kapal layar (yacht rally), yacht race, seminar nasional dan internasional, layanan kesehatan massal dan gratis, serta pameran produk perikanan.

Agung yang juga Ketua Panitia Pelaksana SWB mengemukakan, kementerian-kementerian yang terkait akan menggulirkan anggaran di dua provinsi yang terlibat untuk mempersiapkan sarana, di antaranya perbaikan jalan dan pelabuhan. Pemerintah daerah berkontribusi menyiapkan acara dan kegiatan.

 

 

Agung mengemukakan, total anggaran yang disiapkan dari persiapan sampai penyelenggaraan SWB masih dihitung.

Sebagai perbandingan, pada penyelenggaraan Sail Banda tahun 2010, anggaran yang dikeluarkan untuk kegiatan hampir Rp 20 miliar. Anggaran untuk perbaikan dan penyediaan sarana dan infrastruktur mencapai lebih dari Rp 300 miliar.

Puncak SWB direncanakan digelar di dua tempat, yaitu Pantai Sombu, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 23-29 Agustus 2011, dan Pantai Tanjung Kelayang, Provinsi Bangka Belitung, 5-12 Oktober 2011.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengemukakan, kegiatan SWB diharapkan memberikan dorongan bagi pariwisata bahari dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Apalagi, Wakatobi menyimpan potensi kekayaan terumbu karang yang luar biasa bagus dan merupakan salah satu jantung terumbu karang dunia.

 

 

 

Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Arif Satria mengemukakan, kegiatan bahari (sail) sebenarnya bagus untuk akselerasi infrastruktur daerah. Penyelenggaraan kegiatan tersebut merupakan trik untuk memaksa pemerataan pembangunan. Ini karena pembangunan infrastruktur di Indonesia kerap hanya dilakukan berdasarkan momentum, bukan berdasarkan desain.

Namun, ia menyarankan, kegiatan tersebut seharusnya diikuti dengan desain pengembangan wilayah yang komprehensif sehingga membawa dampak bagi langkah awal akselerasi pembangunan.

”Sail Wakatobi Belitong jangan sekadar romantisasi sejarah bahari, tetapi hendaknya juga berimbas konkret pada kemakmuran masyarakat,” ujar Arif.

Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam mengemukakan, perhelatan bahari ini diharapkan mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Wakatobi yang selama ini tertinggal karena dikepung lautan.

Kegiatan lanjutan diarahkan tidak hanya terkait pariwisata laut, tetapi juga pengembangan dan pengolahan potensi kelautan, termasuk rumput laut, budidaya perikanan, dan pengembangan investasi yang mengembangkan ekonomi wilayah.

Gubernur Provinsi Bangka Belitung Eko Maulana Ali mengemukakan, pihaknya siap menggulirkan dana sekitar Rp 10 miliar untuk pelaksanaan di Belitong. (LKT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau