Kepala Desa Kananta, Abdul Haris, yang mengikuti proses penemuan bom bersama polisi, mengatakan, ada dua bom yang masih aktif. Namun, ia tidak mengetahui jumlah keseluruhan bom yang ditemukan.
”Bom itu memakai pipa besi bentuk ’L’, lalu ada serbuk warna coklat kehitaman di dalamnya,” kata Abdul. Dia juga melihat pipa-pipa besi lainnya yang belum diisi serbuk tersebut.
Bom rakitan itu ditemukan di semak-semak di sebuah bukit yang terletak sekitar 50 meter dari situs Wadu Paa. Berdasarkan pantauan Kompas, tempat tersebut sangat sepi dan hanya terdapat batu-batuan dan semak belukar. Untuk menuju ke lokasi bom itu juga harus melewati pagar kawat berduri.
Abdul menduga, bom itu sengaja disembunyikan di tempat itu karena relatif sepi. ”Saya juga tidak melihat sesuatu yang
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat Ajun Komisaris Besar Sukarman Husein ketika dihubungi dari Bima belum bersedia memberi keterangan. Alasannya, belum ada gelar perkara mengenai temuan ini di Markas Kepolisian Resor Kabupaten Bima.
Kepala Polres Kabupaten Bima, Ajun Komisaris Besar Fauza Barito, ketika ditemui juga enggan berkomentar. Menurut dia, belum ada perintah dari Polda NTB untuk memublikasikan temuan tersebut.
Di Jakarta, Kepala Divisi Humas Kepolisian Negara RI (Polri) Anton Bachrul Alam menjelaskan, aparat kepolisian dan polisi antiteror telah menemukan 26 bom rakitan pada pengembangan pemeriksaan dalam kasus peledakan bom di Pondok Pesantren Umar Bin Khattab, Bima, Nusa Tenggara Barat. Selain itu, aparat kepolisian telah menahan tiga tersangka dari tujuh orang yang ditangkap sebelumnya karena diduga terkait dengan peledakan pondok pesantren ini.
”Polisi menemukan 26 bom rakitan yang dibuang di jurang,” kata Anton. Bom rakitan itu diduga dibuang penghuni ponpes saat mereka melarikan diri.
Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Boy Rafli Amar mengatakan, bom rakitan itu ditemukan di Wadu Paa, Desa Kananta, Kecamatan Soromandi, Bima, NTB. Bom rakitan yang ditemukan itu terdiri dari 12 casing bom pipa ukuran 1,5 inci, 3 buah casing bom pipa ukuran 1,5 inci berbentuk ”L” (dua masih terisi bahan peledak), 6 casing bom pipa ukuran 1 inci berbentuk ”L”, dan 5 casing bom pipa ukuran 1 inci.
Selain itu, ditemukan juga 10 baterai 9 volt, 1 baterai telepon genggam merek Nokia, tiga pecahan casing bom pipa berbentuk ”L”, dan 7 rangkaian kabel listrik 50 sentimeter.
Boy menambahkan, dari tujuh orang yang ditangkap sebelumnya, aparat kepolisian telah menahan tiga orang setelah diperiksa dalam 7 hari. Ketiga tersangka yang ditahan itu, Rahmat Ibnu Umar, Rachmat Hidayat, dan Mustaqim Abdullah.
Aparat kepolisian juga telah menangkap pemimpin Pondok Pesantren Umar Bin Khattab, Abrory, yang masih menjalani pemeriksaan intensif.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbay menambahkan, pemimpin Pondok Pesantren Umar Bin Khattab, Abrory, diduga terlibat dalam jaringan Poso dan Palu. Abrory sudah teridentifikasi sejak peristiwa penyerangan di Palu. ”Mereka selalu memanfaatkan pesantren untuk merekrut anak-anak yang tidak tahu menahu,” kata Ansyaad. Ideologi radikal dengan mengatasnamakan ajaran agama diindoktrinasikan kepada orang-orang yang mau direkrut.
Terkait kasus ledakan bom di Pondok Pesantren Umar Bin Khattab, polisi telah menahan pemimpin ponpes, Abrory M Ali, dan salah satu santri yang berinisial F, sebagai tersangka. ”Saat ini kami sedang mendalami peran dari mereka dalam kasus ini,” kata Sukarman.
Sebelumnya, Polda NTB juga mengimbau para santri di ponpes tersebut agar melapor. Setelah peristiwa ledakan itu, para santri menghilang dan ponpes pun kosong.