Myanmar

Suu Kyi Peringati Tragedi Tahun 1988

Kompas.com - 09/08/2011, 02:20 WIB

YANGON, SENIN - Penerima Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi dan sejumlah aktivis menggelar peringatan aksi perlawanan mereka terhadap kediktatoran junta militer Myanmar di Yangon, Senin (8/8). Peringatan itu sekaligus cara mereka untuk terus mengingat perjuangan panjang menghadirkan demokrasi di negeri itu belumlah usai.

Upacara peringatan yang digelar sederhana dan nyaris tidak menarik perhatian itu berlangsung seminggu sebelum rencana Suu Kyi melakukan safari politik pertama ke luar Yangon sejak dibebaskan dari status tahanan rumah pada November lalu.

Dalam acara peringatan itu Suu Kyi, sejumlah rekan, dan sekitar 350 pengikutnya berkumpul di sebuah biara di sebelah barat Yangon.

Bersama-sama mereka mencoba mengingat kembali aksi perlawanan mereka dalam bentuk unjuk rasa besar-besaran pada masa lalu, yang melibatkan sedikitnya satu juta warga Myanmar, melawan secara terang-terangan rezim junta militer yang berkuasa.

Pada aksi 8 Agustus 1988 itu rakyat memprotes kebijakan serampangan pemerintah yang didukung militer itu, yang menghapus begitu saja tabungan masyarakat dengan menerapkan kebijakan perubahan mata uang secara tiba-tiba (demonetization).

Dalam aksi itu sekitar 3.000 pengunjuk rasa terbunuh. Aksi unjuk rasa kemudian dilarang dan dihancurkan oleh pemerintah junta militer.

”Janganlah kita melupakan mereka yang telah mengorbankan jiwa dalam perjuangan demokrasi ini. Jangan pernah pula kita melupakan tujuan utama menghentikan kediktatoran militer dan menciptakan sistem pemerintahan demokratis,” ujar Win Tin (82), jurnalis terkenal Myanmar sekaligus pemimpin partai oposisi.

Nama Suu Kyi mencuat dalam aksi unjuk rasa tersebut. Dia sebelumnya hanya dikenal sebagai putri pahlawan nasional Myanmar, Jenderal Aung San. Dalam perjuangannya, dia juga membentuk organisasi politik, Liga Nasional untuk Demokrasi (LND).

Organisasi itu terus-menerus menghadapi upaya pemberangusan serta tekanan dari pihak militer dan pemerintah. Setahun pascaaksi besar-besaran itu, Suu Kyi dijatuhi hukuman tahanan rumah. LND juga tidak bisa menjadi partai politik lantaran tidak dibolehkan ikut dalam pemilihan umum tahun lalu.

Tahanan politik

Saat ini LND terus mengusung upaya pembebasan sekitar 2.000 tahanan politik sekaligus juga mengupayakan reformasi demokrasi. Pemilihan umum yang digelar pemerintahan Myanmar tahun lalu banyak dinilai sejumlah kalangan dilakukan dengan tidak adil, penuh kecurangan, dan pura-pura.

Hasilnya pun bisa dilihat di mana banyak orang berlatar belakang militer kembali mendominasi anggota legislatif dan pemerintahan di negeri itu.

Otoritas keamanan tampak menoleransi aksi peringatan kali ini. Akan tetapi, rencana Suu Kyi berkunjung ke beberapa tempat di luar Yangon tampak akan menemui banyak tantangan.

Suu Kyi berencana mengunjungi Kota Bago, sekitar 80 kilometer arah utara Yangon, untuk menemui para pendukungnya sekaligus membuka sejumlah perpustakaan. Hal itu disampaikan juru bicaranya, Nyan Win.

Rencana kunjungan keliling Suu Kyi ke beberapa daerah ditentang. Oleh media massa bentukan pemerintah, rencana itu disebut berisiko memicu kerusuhan. Peringatan itu disampaikan media massa bentukan pemerintah pada Juni lalu.

Insiden seperti ditakutkan itu memang pernah terjadi saat Suu Kyi berkeliling ke beberapa tempat tahun 2003. Saat itu rombongan diserang sekelompok pendukung junta militer. Beberapa pengikutnya tewas dan Suu Kyi kembali dimasukkan dalam tahanan rumah. Militer Myanmar membantah terlibat. (AP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau