YANGON, SENIN -
Upacara peringatan yang digelar sederhana dan nyaris tidak menarik perhatian itu berlangsung seminggu sebelum rencana Suu Kyi melakukan safari politik pertama ke luar Yangon sejak dibebaskan dari status tahanan rumah pada November lalu.
Dalam acara peringatan itu Suu Kyi, sejumlah rekan, dan sekitar 350 pengikutnya berkumpul di sebuah biara di sebelah barat Yangon.
Bersama-sama mereka mencoba mengingat kembali aksi perlawanan mereka dalam bentuk unjuk rasa besar-besaran pada masa lalu, yang melibatkan sedikitnya satu juta warga Myanmar, melawan secara terang-terangan rezim junta militer yang berkuasa.
Pada aksi 8 Agustus 1988 itu rakyat memprotes kebijakan serampangan pemerintah yang didukung militer itu, yang menghapus begitu saja tabungan masyarakat dengan menerapkan kebijakan perubahan mata uang secara tiba-tiba (demonetization).
Dalam aksi itu sekitar 3.000 pengunjuk rasa terbunuh. Aksi unjuk rasa kemudian dilarang dan dihancurkan oleh pemerintah junta militer.
”Janganlah kita melupakan mereka yang telah mengorbankan jiwa dalam perjuangan demokrasi ini. Jangan pernah pula kita melupakan tujuan utama menghentikan kediktatoran militer dan menciptakan sistem pemerintahan demokratis,” ujar Win Tin (82), jurnalis terkenal Myanmar sekaligus pemimpin partai oposisi.
Nama Suu Kyi mencuat dalam aksi unjuk rasa tersebut. Dia sebelumnya hanya dikenal sebagai putri pahlawan nasional Myanmar, Jenderal Aung San. Dalam perjuangannya, dia juga membentuk organisasi politik, Liga Nasional untuk Demokrasi (LND).
Organisasi itu terus-menerus menghadapi upaya pemberangusan serta tekanan dari pihak militer dan pemerintah. Setahun pascaaksi besar-besaran itu, Suu Kyi dijatuhi hukuman tahanan rumah. LND juga tidak bisa menjadi partai politik lantaran tidak dibolehkan ikut dalam pemilihan umum tahun lalu.
Saat ini LND terus mengusung upaya pembebasan sekitar 2.000 tahanan politik sekaligus juga mengupayakan reformasi demokrasi. Pemilihan umum yang digelar pemerintahan Myanmar tahun lalu banyak dinilai sejumlah kalangan dilakukan dengan tidak adil, penuh kecurangan, dan pura-pura.
Hasilnya pun bisa dilihat di mana banyak orang berlatar belakang militer kembali mendominasi anggota legislatif dan pemerintahan di negeri itu.
Otoritas keamanan tampak menoleransi aksi peringatan kali ini. Akan tetapi, rencana Suu Kyi berkunjung ke beberapa tempat di luar Yangon tampak akan menemui banyak tantangan.
Suu Kyi berencana mengunjungi Kota Bago, sekitar 80 kilometer arah utara Yangon, untuk menemui para pendukungnya sekaligus membuka sejumlah perpustakaan. Hal itu disampaikan juru bicaranya, Nyan Win.
Rencana kunjungan keliling Suu Kyi ke beberapa daerah ditentang. Oleh media massa bentukan pemerintah, rencana itu disebut berisiko memicu kerusuhan. Peringatan itu disampaikan media massa bentukan pemerintah pada Juni lalu.
Insiden seperti ditakutkan itu memang pernah terjadi saat Suu Kyi berkeliling ke beberapa tempat tahun 2003. Saat itu rombongan diserang sekelompok pendukung junta militer. Beberapa pengikutnya tewas dan Suu Kyi kembali dimasukkan dalam tahanan rumah. Militer Myanmar membantah terlibat.