Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta mencatat, korsleting listrik merupakan penyebab terbesar terjadi kebakaran di wilayah Jakarta. Tercatat dalam periode Januari hingga awal Agustus 2011, dari total 491 kasus kebakaran, sebanyak 320 kasus akibat korsleting listrik.
Kondisi itu tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai gambaran, tahun 2007, dari 853 kasus kebakaran, 550 kasus karena korsleting. Tahun 2008, kebakaran karena korsleting listrik 475 kasus dari total 818 kasus. Tahun 2009 ada 843 kasus kebakaran, 506 kasus karena korsleting. Tahun 2010 ada 708 kasus, sebanyak 474 kasus kebakaran karena korsleting.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Paimin Napitupulu, Senin (8/8), mengatakan, instalasi listrik yang serampangan mempermudah terjadi korsleting listrik.
”Pencurian listrik yang masih sering terjadi juga membuat korsleting listrik mudah terjadi dan berbuntut terjadi kebakaran,” ujar Paimin.
Oleh karena itu, kata Paimin, penertiban akan efektif bila dilakukan secara terpadu dari semua pihak.
Manajer Distribusi PT PLN Distribusi Jakarta Raya-Tangerang Paranai Suhasfan mengatakan, pengawasan penggunaan dan penyambungan listrik memang baru sebatas rumah per rumah. Belum ada pemeriksaan secara menyeluruh di wilayah Jakarta. Pengawasan itu adalah memantau jumlah penggunaan listrik di setiap rumah.
”Biasanya, jika ada penggunaan listrik yang mencurigakan, baru kami awasi,” katanya.
Paranai membenarkan bahwa penggunaan listrik di permukiman padat penduduk masih semrawut. Sebagian besar warga di permukiman itu masih menggunakan satu jaringan listrik untuk beberapa rumah.
Program penertibannya baru sebatas sosialisasi terkait penggunaan dan penyaluran listrik yang benar. ”Namun, sosialisasi ini kami laksanakan secara rutin supaya warga bisa lebih waspada terhadap bahaya kebakaran karena korsleting listrik,” katanya.
Kampung Baru di Kelurahan Pluit, Jakarta Utara, merupakan salah satu perkampungan padat penduduk yang menggunakan satu alat meter listrik untuk kebutuhan listrik satu kampung. Melalui alat itu, disalurkan listrik sebesar 23.000 watt (23 kWh) untuk 100 rumah.
Pada Februari lalu, 200 rumah dan kontrakan di kampung itu ludes terbakar karena korsleting listrik dari salah satu rumah
Koordinator listrik di kampung itu, Komar, mengatakan, alat meter listrik dengan daya sebesar itu dipasang secara resmi oleh PT PLN. Itu untuk memenuhi kebutuhan warga yang sebagian besar hanya memiliki rumah bilik dan miskin.
Meski sudah diberi kemudahan, diakui Komar, kesadaran warga dalam menggunakan listrik masih lemah. Tidak sedikit dari mereka yang menggunakan kabel ukuran kecil untuk menghidupkan beberapa alat elektronik.
Oleh karena itu, agar tak terjadi kebakaran akibat korsleting listrik lagi, Komar menyatakan mulai memperketat penggunaan listrik. Aliran listrik warga yang masih menggunakan kabel ukuran kecil dicabut.
”Setiap hari saya memantau setiap rumah. Kalau ada yang menyambung tanpa izin, juga langsung saya cabut,” katanya.
Pelaksana Harian Kepala Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Utara Irwan mengatakan, risiko korsleting listrik itu perlu diperhatikan secara serius. Apalagi memasuki musim kemarau seperti sekarang, lanjutnya, potensi angin kencang berpeluang besar terjadi di kawasan pesisir, khususnya Jakarta Utara.
”Angin kencang ini bisa menyebabkan api meluas dengan cepat. Penyebab kebakaran, seperti korsleting listrik itu, harus bisa diminimalisasi,” katanya.