Lingkar Nagreg Memecah Jalur

Kompas.com - 22/08/2011, 04:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Jalur lingkar Nagreg sepanjang 5,4 kilometer di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memecah dua jalur menjadi satu jalur ke atau dari Bandung, Tasikmalaya, dan Garut. Rencananya, jalur mudik ini mulai dioperasionalkan 10 hari menjelang Lebaran untuk mengurai kemacetan yang biasa terjadi setiap tahun.

”Secara fungsional, jalur lingkar Nagreg sudah siap dilalui berbagai ukuran kendaraan, termasuk truk besar. Jika polisi sudah memberi ’lampu hijau’, kami siap membuka untuk umum,” kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto, Minggu (21/8), di Jakarta.

Djoko menuturkan, jalur baru tersebut sudah siap digunakan sejak uji coba pada Senin (8/8) lalu. Untuk memanfaatkan masa sebelum arus mudik berlangsung, pekerja menyempurnakan pembangunan semi-terowongan sepanjang 400 meter.

”Kalau sudah dibuka, pekerjaan akan kami hentikan sementara,” lanjut Djoko.

Berdasarkan pengamatan Tim Lebaran Kompas 2011 bekerja sama dengan Honda, pekan lalu, sejumlah pekerja masih menyelesaikan pembangunan gorong-gorong, pembatas jalan, serta merapikan pilar dinding penyangga semi-terowongan.

Lebih landai

Menurut Haryono, Pejabat Pembuat Komitmen Proyek Jalan Lingkar Nagreg, lorong semi-terowongan itu berfungsi melindungi tekanan material dari dinding bukit yang dikepras di sisi kiri dan kanan jalan. Pengeprasan bertujuan mengurangi kecuraman tanjakan.

”Sebelumnya, tanjakannya sampai 18 persen. Saat ini, menjadi 10 persen,” kata Haryono.

Kelandaian 10 persen, menurut Haryono, diperhitungkan untuk jarak 100 meter terdapat perbedaan tinggi 10 meter. Jalur baru Lingkar Nagreg merupakan jalur mudik utama lintas selatan Jawa Barat menuju Garut, Tasikmalaya, Banjar, hingga Jawa Tengah dan Yogyakarta. Titik kemacetan selepas Nagreg masih dimungkinkan di sekitar pasar tradisional Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut.

Tikungan tajam

Titik rawan kemacetan berikutnya terjadi di daerah Gentong, Kabupaten Tasikmalaya. Jalur ini berupa turunan dari arah Nagreg dengan jarak sepanjang dua kilometer. Kendaraan harus melambat karena banyak tikungan tajam.

Kepala Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya Ajun Komisaris Gupuh Setiyono, mengatakan, ada lima titik jalan yang menyempit dan miring, yaitu di Jalan Pamoyanan Km 80, Jalan Kadipaten Km 2, Jalan Kadipaten Km 74, Jalan Kadipaten Km 75, dan Jalan Kadipaten Km 76 di jalur yang menghubungkan Bandung dan Tasikmalaya.

Menurut Gupuh, kemiringan jalan antara 20 derajat hingga 30 derajat. Jalan menyempit dari 10 sampai 12 meter menjadi 7 sampai 8 meter, dan sudut tikungan yang cukup tajam antara 90 derajat hingga 100 derajat. Gupuh mengatakan, kontur jalan seperti itu rawan kecelakaan lalu lintas.

Setiawan (38), pengemudi mikro bus jurusan Bandung-Tasikmalaya, mengatakan, bila memasuki Kecamatan Kadipaten terdapat banyak titik rawan kecelakaan. Banyak terdapat tanjakan tinggi dan jalan yang menyempit. (HEI/CHE/WSI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau