”Secara fungsional, jalur lingkar Nagreg sudah siap dilalui berbagai ukuran kendaraan, termasuk truk besar. Jika polisi sudah memberi ’lampu hijau’, kami siap membuka untuk umum,” kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto, Minggu (21/8), di Jakarta.
Djoko menuturkan, jalur baru tersebut sudah siap digunakan sejak uji coba pada Senin (8/8) lalu. Untuk memanfaatkan masa sebelum arus mudik berlangsung, pekerja menyempurnakan pembangunan semi-terowongan sepanjang 400 meter.
”Kalau sudah dibuka, pekerjaan akan kami hentikan sementara,” lanjut Djoko.
Berdasarkan pengamatan Tim Lebaran Kompas 2011 bekerja sama dengan Honda, pekan lalu, sejumlah pekerja masih menyelesaikan pembangunan gorong-gorong, pembatas jalan, serta merapikan pilar dinding penyangga semi-terowongan.
Menurut Haryono, Pejabat Pembuat Komitmen Proyek Jalan Lingkar Nagreg, lorong semi-terowongan itu berfungsi melindungi tekanan material dari dinding bukit yang dikepras di sisi kiri dan kanan jalan. Pengeprasan bertujuan mengurangi kecuraman tanjakan.
”Sebelumnya, tanjakannya sampai 18 persen. Saat ini, menjadi 10 persen,” kata Haryono.
Kelandaian 10 persen, menurut Haryono, diperhitungkan untuk jarak 100 meter terdapat perbedaan tinggi 10 meter. Jalur baru Lingkar Nagreg merupakan jalur mudik utama lintas selatan Jawa Barat menuju Garut, Tasikmalaya, Banjar, hingga Jawa Tengah dan Yogyakarta. Titik kemacetan selepas Nagreg masih dimungkinkan di sekitar pasar tradisional Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut.
Titik rawan kemacetan berikutnya terjadi di daerah Gentong, Kabupaten Tasikmalaya. Jalur ini berupa turunan dari arah Nagreg dengan jarak sepanjang dua kilometer. Kendaraan harus melambat karena banyak tikungan tajam.
Kepala Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya Ajun Komisaris Gupuh Setiyono, mengatakan, ada lima titik jalan yang menyempit dan miring, yaitu di Jalan Pamoyanan Km 80, Jalan Kadipaten Km 2, Jalan Kadipaten Km 74, Jalan Kadipaten Km 75, dan Jalan Kadipaten Km 76 di jalur yang menghubungkan Bandung dan Tasikmalaya.
Menurut Gupuh, kemiringan jalan antara 20 derajat hingga 30 derajat. Jalan menyempit dari 10 sampai 12 meter menjadi 7 sampai 8 meter, dan sudut tikungan yang cukup tajam antara 90 derajat hingga 100 derajat. Gupuh mengatakan, kontur jalan seperti itu rawan kecelakaan lalu lintas.
Setiawan (38), pengemudi mikro bus jurusan Bandung-Tasikmalaya, mengatakan, bila memasuki Kecamatan Kadipaten terdapat banyak titik rawan kecelakaan. Banyak terdapat tanjakan tinggi dan jalan yang menyempit. (HEI/CHE/WSI)