Lebaran buruh

Membangun "Venue", Dijamu Gubernur Alex Noerdin

Kompas.com - 01/09/2011, 03:06 WIB

Faisal (31) tertawa semringah. Matanya tertuju ke sepatu rekannya yang keren mengilap. ”Wah, elok nian. Mesti punya bapa-nyo. Tak pantas kau pakai itu,” ungkapnya bercanda, Rabu (31/8), sambil mengipas-ngipas baju koko merahnya.

Rupanya, sesama rekannya, buruh atau tukang bangunan asal Plaju, Palembang, ini canggung berpakaian Muslim rapi saat Idul Fitri. Ia kegerahan jika harus memakai baju koko. Baju barunya itu sebetulnya pemberian dari kontraktor.

”Biasanyo, ya, pakai oblong ajo. Yang penting rapi dan baru,” ujar pekerja di Pusat Akuatik, Jakabaring, Kota Palembang. Tempat ini merupakan salah satu venue atau arena perhelatan SEA Games 2011 di Palembang.

Rapi dan bersih memang jauh dari keseharian mereka. Namun, hari itu, mereka terpaksa berdandan rapi. Pagi itu, para pekerja venue SEA Games ini menjadi salah satu tamu kehormatan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin.

Alex sengaja mengundang ratusan pekerja dan petugas bagian kebersihan di Jakabaring untuk datang ke kediamannya di Griya Agung. Bersama tamu terhormat lainnya dari berbagai daerah di Sumsel, para buruh kasar ini dijamu di rumah dinas gubernur yang cukup megah ini.

Meskipun hanya buruh kasar, peran mereka sangat vital. Di tengah banyaknya pekerja yang memilih pulang ke Jawa untuk libur panjang Lebaran, buruh-buruh asal Plaju itu memilih lembur bekerja. Meskipun upah minim, hanya Rp 55.000 per hari, mereka rela hanya libur dua hari di saat Lebaran ini.

Untuk menghargai mereka pula, layaknya atlet atau pengurus sebuah perhelatan akbar olahraga, mereka diantar-jemput menggunakan bus dari Jakabaring ke Griya Agung. Hari itu, 10 bus Trans-Musi dikerahkan untuk mengantar para pekerja yang dianggap berjasa menyukseskan SEA Games. Selama perjalanan, mereka dikawal layaknya rombongan pejabat penting.

Akan tetapi, bagi Faisal, kunjungan ke rumah pejabat penting di daerahnya itu layaknya silaturahim yang biasa dilakukan di kampungnya di Sungai Rebo, Kecamatan Banyu Asin, Plaju, seolah merasa ber-Lebaran di kampung. Bedanya, yang dikunjungi itu rumah pejabat penting.

”Soalnya, yang datang bersama-sama ini, kan, teman-teman satu kampung pula,” ucapnya tersenyum. Seperti diungkapkan Faisal, hampir semua buruh bangunan yang diundang ke kediaman Gubernur Sumsel berasal dari satu daerah, yaitu Plaju.

Kampung buruh

Hampir 90 persen anak muda di daerah yang berbatasan dengan Jakabaring ini bekerja sebagai buruh bangunan. Profesi itu ditekuni sebagai akibat kondisi ekonomi. Itu sebabnya Plaju selalu dijuluki pula kampung buruh bangunan. ”Ya, terpaksa. Tak ada kerja lainnya. Sawah pun kami tak punya lagi,” ungkap Joko Saputra (24), buruh bangunan asal Plaju.

Mardi H, warga Plaju, bercerita, lahan sawah pasang-surut di daerahnya semakin berkurang akibat tergusur proyek pembangunan venue SEA Games dan Kawasan Olahraga Jakabaring. Akibatnya, kebanyakan anak muda di daerah itu rama-ramai beralih profesi menjadi buruh bangunan.

”Beberapa waktu lalu, sawah warisan kakek saya juga digusur untuk lapangan golf. Dibeli murah pula, hanya Rp 35.000 per meter atau sepertiga dari permintaan kami. Akan tetapi, kami telah mengikhlaskannya karena bagaimanapun ini untuk proyek penting, demi nama Palembang,” tutur mantan tukang bangunan ini. Pengorbanan mereka tentu harus menjadi perhatian. (Yulvianus Harjono)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau