Faisal (31) tertawa semringah. Matanya tertuju ke sepatu rekannya yang keren mengilap. ”Wah, elok nian. Mesti punya bapa-nyo
Rupanya, sesama rekannya, buruh atau tukang bangunan asal Plaju, Palembang, ini canggung berpakaian Muslim rapi saat Idul Fitri. Ia kegerahan jika harus memakai baju koko. Baju barunya itu sebetulnya pemberian dari kontraktor.
”Biasanyo, ya, pakai oblong ajo. Yang penting rapi dan baru,” ujar pekerja di Pusat Akuatik, Jakabaring, Kota Palembang. Tempat ini merupakan salah satu venue atau arena perhelatan SEA Games 2011 di Palembang.
Rapi dan bersih memang jauh dari keseharian mereka. Namun, hari itu, mereka terpaksa berdandan rapi. Pagi itu, para pekerja venue SEA Games ini menjadi salah satu tamu kehormatan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin.
Alex sengaja mengundang ratusan pekerja dan petugas bagian kebersihan di Jakabaring untuk datang ke kediamannya di Griya Agung. Bersama tamu terhormat lainnya dari berbagai daerah di Sumsel, para buruh kasar ini dijamu di rumah dinas gubernur yang cukup megah ini.
Meskipun hanya buruh kasar, peran mereka sangat vital. Di tengah banyaknya pekerja yang memilih pulang ke Jawa untuk libur panjang Lebaran, buruh-buruh asal Plaju itu memilih lembur bekerja. Meskipun upah minim, hanya Rp 55.000 per hari, mereka rela hanya libur dua hari di saat Lebaran ini.
Untuk menghargai mereka pula, layaknya atlet atau pengurus sebuah perhelatan akbar olahraga, mereka diantar-jemput menggunakan bus dari Jakabaring ke Griya Agung. Hari itu, 10 bus Trans-Musi dikerahkan untuk mengantar para pekerja yang dianggap berjasa menyukseskan SEA Games. Selama perjalanan, mereka dikawal layaknya rombongan pejabat penting.
Akan tetapi, bagi Faisal, kunjungan ke rumah pejabat penting di daerahnya itu layaknya silaturahim yang biasa dilakukan di kampungnya di Sungai Rebo, Kecamatan Banyu Asin, Plaju, seolah merasa ber-Lebaran di kampung. Bedanya, yang dikunjungi itu rumah pejabat penting.
”Soalnya, yang datang bersama-sama ini, kan, teman-teman satu kampung pula,” ucapnya tersenyum. Seperti diungkapkan Faisal, hampir semua buruh bangunan yang diundang ke kediaman Gubernur Sumsel berasal dari satu daerah, yaitu Plaju.
Hampir 90 persen anak muda di daerah yang berbatasan dengan Jakabaring ini bekerja sebagai buruh bangunan. Profesi itu ditekuni sebagai akibat kondisi ekonomi. Itu sebabnya Plaju selalu dijuluki pula kampung buruh bangunan. ”Ya, terpaksa. Tak ada kerja lainnya. Sawah pun kami tak punya lagi,” ungkap Joko Saputra (24), buruh bangunan asal Plaju.
Mardi H, warga Plaju, bercerita, lahan sawah pasang-surut di daerahnya semakin berkurang akibat tergusur proyek pembangunan venue SEA Games dan Kawasan Olahraga Jakabaring. Akibatnya, kebanyakan anak muda di daerah itu rama-ramai beralih profesi menjadi buruh bangunan.
”Beberapa waktu lalu, sawah warisan kakek saya juga digusur untuk lapangan golf. Dibeli murah pula, hanya Rp 35.000 per meter atau sepertiga dari permintaan kami. Akan tetapi, kami telah mengikhlaskannya karena bagaimanapun ini untuk proyek penting, demi nama Palembang,” tutur mantan tukang bangunan ini. Pengorbanan mereka tentu harus menjadi perhatian.