Antisipasi Banjir

Kompas.com - 28/09/2011, 02:27 WIB

Tangerang, Kompas - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan, musim hujan terjadi pada Oktober dan November. Agar banjir dan genangan berkurang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Tangerang memperbaiki drainase, membangun sodetan, memperbanyak sumur resapan, dan menormalisasi sungai.

Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta mencatat, sepanjang tahun 2010-2011 telah dan sedang diselesaikan masalah genangan air di jalan arteri dan kolektor di seluruh Jakarta.

Perhitungan pada awal 2010, total terdapat 123 lokasi genangan air yang harus diatasi dengan pemeliharaan dan rehabilitasi sistem drainase.

Perincian lokasinya adalah Jakarta Pusat dengan 17 lokasi, Jakarta Utara sebanyak 21 lokasi, Jakarta Timur 26 lokasi, Jakarta Selatan 37 lokasi, Jakarta Barat sebanyak 14 lokasi, dan dedicated program (program utama) sebanyak 8 lokasi.

Wali Kota Jakarta Selatan Syahrul Effendi mengatakan, selama tahun 2010 sampai 2011 pihaknya telah memperbaiki saluran drainase di 13 lokasi genangan.

”Sampai akhir tahun ini, ditargetkan 24 lokasi genangan tersisa di Jakarta Selatan dapat diatasi,” kata Syahrul.

Khusus di Jakarta Selatan, pengerukan saluran di jalan-jalan arteri dilakukan sepanjang dua bulan terakhir ini.

Pengerukan antara lain di ruas jalan penghubung Kecamatan Pesanggrahan dan Bintaro.

Sodetan, sumur resapan

Di Kota Tangerang, Wakil Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan, pihaknya juga telah mengalokasikan dana antisipasi banjir dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2011 sebesar Rp 22 miliar.

Anggaran itu digunakan antara lain untuk pengerukan kali atau normalisasi kali, pengadaan pompa air, dan memasang alarm banjir.

Sementara itu, dari Anggaran Bantuan Tambahan dianggarkan sebesar Rp 4,5 miliar untuk pembangunan 1.000 sumur resapan air.

Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang juga membuat sodetan di sejumlah sungai, seperti Sabi, Cisarung, Apur, Cibodas, dan Cantiga.

Pembuatan sodetan ini diharapkan mampu menampung air banjir kiriman dari hulu Sungai Cisadane di Bogor, Jawa Barat.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang Suparman Iskandar menambahkan, antisipasi banjir juga dilakukan dengan membangun 1.000 sumur resapan di daerah rawan banjir

”Di Tangerang masih ada 40 titik yang rawan genangan air dan banjir yang belum bisa diatasi. Adanya tambahan sumur resapan ini diharapkan dapat mengurangi daerah rawan banjir,” jelas Suparman.

Turap Kali Angke

Untuk jangka panjang, kata Suparman, pihaknya juga sedang mempersiapkan sterilisasi dan pembebasan lahan di sekitar lokasi pembangunan turap Kali Angke, Kota Tangerang. Hal itu dilakukan setelah ada rencana pemerintah pusat untuk membangun turap sepanjang 20 kilometer, mulai dari Cengkareng Grand, Jakarta-Pondok Bahar, Kota Tangerang, hingga jembatan Graha Bintaro, Kota Tangerang Selatan.

”Sterilisasi dan pembebasan lahan dilakukan agar pembangunan turap dapat segera dilakukan,” kata Suparman.

Pembangunan turap ini merupakan program normalisasi sungai untuk penanggulangan banjir, baik di Jakarta maupun daerah penyangganya, seperti Tangerang dan Tangerang Selatan. Untuk pembangunan proyek berkelanjutan ini, pemerintah pusat mengalokasikan anggaran sebesar Rp 600 miliar dari dana APBN. (NEL/PIN/MDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau