Empat hari masa pencarian terhadap korban jatuhnya pesawat CASA 212-200 di hutan Bohorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, harapan dan doa terus dipanjatkan para keluarga korban. Mereka berharap pesawat tersebut tidak mengalami kecelakaan dan nasib 14 penumpang berikut 4 awaknya selamat.
Begitu Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas), Sabtu siang, mengumumkan bahwa semua penumpang pesawat itu tewas dalam keadaan terikat di kursi masing-masing, harapan yang terpelihara saat masa penantian itu pupus seketika.
Dua kali sudah Ny Samsiar (47) jatuh pingsan. Pertama, saat mendengar pesawat CASA 212-200 yang ditumpangi anak dan dua cucunya hilang kontak Kamis pagi lalu. Kedua, saat mendengar pengumuman dari Basarnas tersebut.
Kemarin, saat menunggui identifikasi jenazah di RSUP Adam Malik, Medan, ia pun tampak lemas dan harus mendapat perawatan khusus dari tim kesehatan. Suami Ny Samsiar, Rabudinsyah (53), tampak sedikit lebih tabah. Namun, sudah empat hari ia tidak bisa tidur dan tidak punya nafsu makan. ”Saya hanya bisa berdoa,” kata Rabudinsyah pasrah.
Selain diliputi duka mendalam, para keluarga korban pesawat naas tersebut juga sedikit kecewa. Mereka menilai proses evakuasi berlangsung begitu lamban. Korban baru bisa dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat empat hari pasca-kejadian.
Harapan para keluarga korban pesawat tersebut rupanya tak berjalan seiring dengan fakta di lapangan. Menteri Perhubungan Freddy Numberi menyatakan, posisi pesawat sudah diketahui satu-dua jam setelah pesawat hilang kontak di posisi 003
Akibat kecelakaan itu, Samsiar dan Rabudinsyah harus kehilangan anak perempuannya, Samsidar Yusni (27), dan dua cucunya, Hamimatul Janah (5) dan Hanif Abdilah (3,5).
Pengumuman, Sabtu itu, juga membuat Viktor Matulessy (36) terpukul dan kecewa. Ia kehilangan ayahnya, teknisi pesawat itu, Nico Matulessy (72). Ia menyayangkan tim evakuasi yang berjalan sangat lambat. ”Papi mungkin meninggal karena hipertensi, bukan karena benturan,” tutur Viktor.
Para keluarga menyayangkan mengapa keputusan mengevakuasi lewat jalan udara tidak dilakukan pada hari pertama. Muslim Harahap, kerabat Samsidar, yang mengikuti tim evakuasi menempuh jalur darat mencari lokasi jatuhnya pesawat terus menyesalkan lambatnya pergerakan tim. ”Dua hari saya ikuti mereka,” kata Muslim. Hingga akhirnya Muslim menyimpulkan ada masalah dengan koordinasi tim.
Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Daryatmo mengatakan, pihaknya sangat serius dan berusaha keras mencapai lokasi. ”Kami berpegang bahwa korban masih hidup,” kata Daryatmo. Namun, cuaca yang buruk dan kemiringan lokasi menjadi hambatan proses evakuasi.
Saat ditemukan, pesawat dalam keadaan tertutup. Moncong pesawat remuk karena membentur dinding tebing dengan kemiringan 70 derajat. Sayap pesawat patah dan bagian atas pesawat juga remuk. Posisi pesawat berada di atas pohon dalam keadaan miring. ”Evakuasi menjadi sulit karena pesawat sewaktu-waktu bisa meluncur ke jurang,” kata Daryatmo.
Daryatmo mengatakan, para penumpang diduga meninggal terkena dampak dari benturan. ”Bayangkan kecepatan pesawat mencapai 130 knot (241 kilometer per jam),” katanya.
Untuk evakuasi itu, Basarnas menyiapkan empat helikopter. Namun, helikopter baru ada pada hari kedua, yakni Ranger PK UAA yang disediakan PT Nusantara Buana Air dan helikopter Bel 412 TNI AD dari Banda Aceh. Helikopter Basarnas baru tiba di Medan pada hari kedua petang dan hari ketiga.
Direktur Operasi dan Latihan Basarnas Marsekal Pertama Sunarbowo Sandi mengatakan, alasan birokrasi dan jarak membuat pengadaan helikopter agak tersendat. Namun, pihaknya berusaha maksimal agar proses evakuasi berjalan lancar.
Di tengah suasana duka membekap para keluarga korban, suasana dramatis pun mengiringi kegiatan pencarian di lapangan. Apalagi, medan yang ditelisik tergolong berat.
Pesawat jatuh di punggung Bukit Hulusekelem dengan kemiringan 80 derajat. Selain itu, sekitar pesawat ditumbuhi pohon yang tingginya mencapai 25 meter. Cuaca pun tak menentu. ”Bahkan anginnya bisa sangat kencang hingga 40 knot (74 kilometer per jam). Kalau dipaksakan terbang rendah, membahayakan tim,” kata Panglima Kodam I/Bukit Barisan Mayor Jenderal Lodewijk F Paulus.
Kemarin, suara gemuruh mengundang perhatian ratusan warga, wartawan, dan petugas yang sejak dua jam sebelumnya memenuhi Lapangan Turangie, Kecamatan Bahorok. Dari kejauhan angkasa tampak helikopter Bell 206L yang membawa 6 jenazah korban dari Bukit Hulusekelem. Helikopter itu datang dan pergi membawa jenazah hingga lengkap berjumlah 18.
Inilah saat yang paling dinantikan oleh banyak pihak, terutama keluarga korban. Mereka telah menunggu empat hari tiga malam untuk mengetahui kondisi keluarga mereka yang terakhir diketahui menaiki pesawaat naas itu.
Sejak tersiar kabar pesawat itu jatuh Kamis lalu, tim penyelamatan mencoba mencari lokasi persis jatuhnya pesawat itu. Untuk mencapainya lewat darat butuh waktu dua-tiga hari.
Komandan Batalyon Infanteri 100 Raider TNI AD Letkol Heri Rustandi memutuskan untuk mencari pesawat via darat dengan membentuk tiga tim.
Segala daya dan upaya dikerahkan demi mempertemukan para korban dengan keluarga untuk terakhir kalinya....