Keluarga korban casa 212

Harap-harap Cemas dalam Masa Penantian

Kompas.com - 03/10/2011, 05:30 WIB

Oleh Aufrida Wismi Warastri dan M Hilmi Faiq

Empat hari masa pencarian terhadap korban jatuhnya pesawat CASA 212-200 di hutan Bohorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, harapan dan doa terus dipanjatkan para keluarga korban. Mereka berharap pesawat tersebut tidak mengalami kecelakaan dan nasib 14 penumpang berikut 4 awaknya selamat.

Begitu Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas), Sabtu siang, mengumumkan bahwa semua penumpang pesawat itu tewas dalam keadaan terikat di kursi masing-masing, harapan yang terpelihara saat masa penantian itu pupus seketika.

Dua kali sudah Ny Samsiar (47) jatuh pingsan. Pertama, saat mendengar pesawat CASA 212-200 yang ditumpangi anak dan dua cucunya hilang kontak Kamis pagi lalu. Kedua, saat mendengar pengumuman dari Basarnas tersebut.

Kemarin, saat menunggui identifikasi jenazah di RSUP Adam Malik, Medan, ia pun tampak lemas dan harus mendapat perawatan khusus dari tim kesehatan. Suami Ny Samsiar, Rabudinsyah (53), tampak sedikit lebih tabah. Namun, sudah empat hari ia tidak bisa tidur dan tidak punya nafsu makan. ”Saya hanya bisa berdoa,” kata Rabudinsyah pasrah.

Selain diliputi duka mendalam, para keluarga korban pesawat naas tersebut juga sedikit kecewa. Mereka menilai proses evakuasi berlangsung begitu lamban. Korban baru bisa dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat empat hari pasca-kejadian.

Harapan para keluarga korban pesawat tersebut rupanya tak berjalan seiring dengan fakta di lapangan. Menteri Perhubungan Freddy Numberi menyatakan, posisi pesawat sudah diketahui satu-dua jam setelah pesawat hilang kontak di posisi 0030 23' 80' N/0980 01' 21'. ”Apa mungkin karena kami ini orang kecil, jadi prosesnya sangat lambat. Kalau ada anak jenderal di situ, pasti evakuasinya lebih cepat,” tutur Rabudinsyah.

Akibat kecelakaan itu, Samsiar dan Rabudinsyah harus kehilangan anak perempuannya, Samsidar Yusni (27), dan dua cucunya, Hamimatul Janah (5) dan Hanif Abdilah (3,5).

Pengumuman, Sabtu itu, juga membuat Viktor Matulessy (36) terpukul dan kecewa. Ia kehilangan ayahnya, teknisi pesawat itu, Nico Matulessy (72). Ia menyayangkan tim evakuasi yang berjalan sangat lambat. ”Papi mungkin meninggal karena hipertensi, bukan karena benturan,” tutur Viktor.

Para keluarga menyayangkan mengapa keputusan mengevakuasi lewat jalan udara tidak dilakukan pada hari pertama. Muslim Harahap, kerabat Samsidar, yang mengikuti tim evakuasi menempuh jalur darat mencari lokasi jatuhnya pesawat terus menyesalkan lambatnya pergerakan tim. ”Dua hari saya ikuti mereka,” kata Muslim. Hingga akhirnya Muslim menyimpulkan ada masalah dengan koordinasi tim.

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Daryatmo mengatakan, pihaknya sangat serius dan berusaha keras mencapai lokasi. ”Kami berpegang bahwa korban masih hidup,” kata Daryatmo. Namun, cuaca yang buruk dan kemiringan lokasi menjadi hambatan proses evakuasi.

Saat ditemukan, pesawat dalam keadaan tertutup. Moncong pesawat remuk karena membentur dinding tebing dengan kemiringan 70 derajat. Sayap pesawat patah dan bagian atas pesawat juga remuk. Posisi pesawat berada di atas pohon dalam keadaan miring. ”Evakuasi menjadi sulit karena pesawat sewaktu-waktu bisa meluncur ke jurang,” kata Daryatmo.

Daryatmo mengatakan, para penumpang diduga meninggal terkena dampak dari benturan. ”Bayangkan kecepatan pesawat mencapai 130 knot (241 kilometer per jam),” katanya.

Untuk evakuasi itu, Basarnas menyiapkan empat helikopter. Namun, helikopter baru ada pada hari kedua, yakni Ranger PK UAA yang disediakan PT Nusantara Buana Air dan helikopter Bel 412 TNI AD dari Banda Aceh. Helikopter Basarnas baru tiba di Medan pada hari kedua petang dan hari ketiga.

Direktur Operasi dan Latihan Basarnas Marsekal Pertama Sunarbowo Sandi mengatakan, alasan birokrasi dan jarak membuat pengadaan helikopter agak tersendat. Namun, pihaknya berusaha maksimal agar proses evakuasi berjalan lancar.

Dramatis di lapangan

Di tengah suasana duka membekap para keluarga korban, suasana dramatis pun mengiringi kegiatan pencarian di lapangan. Apalagi, medan yang ditelisik tergolong berat.

Pesawat jatuh di punggung Bukit Hulusekelem dengan kemiringan 80 derajat. Selain itu, sekitar pesawat ditumbuhi pohon yang tingginya mencapai 25 meter. Cuaca pun tak menentu. ”Bahkan anginnya bisa sangat kencang hingga 40 knot (74 kilometer per jam). Kalau dipaksakan terbang rendah, membahayakan tim,” kata Panglima Kodam I/Bukit Barisan Mayor Jenderal Lodewijk F Paulus.

Kemarin, suara gemuruh mengundang perhatian ratusan warga, wartawan, dan petugas yang sejak dua jam sebelumnya memenuhi Lapangan Turangie, Kecamatan Bahorok. Dari kejauhan angkasa tampak helikopter Bell 206L yang membawa 6 jenazah korban dari Bukit Hulusekelem. Helikopter itu datang dan pergi membawa jenazah hingga lengkap berjumlah 18.

Inilah saat yang paling dinantikan oleh banyak pihak, terutama keluarga korban. Mereka telah menunggu empat hari tiga malam untuk mengetahui kondisi keluarga mereka yang terakhir diketahui menaiki pesawaat naas itu.

Sejak tersiar kabar pesawat itu jatuh Kamis lalu, tim penyelamatan mencoba mencari lokasi persis jatuhnya pesawat itu. Untuk mencapainya lewat darat butuh waktu dua-tiga hari.

Komandan Batalyon Infanteri 100 Raider TNI AD Letkol Heri Rustandi memutuskan untuk mencari pesawat via darat dengan membentuk tiga tim.

Segala daya dan upaya dikerahkan demi mempertemukan para korban dengan keluarga untuk terakhir kalinya....

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau