Hari Kedua Milik Indonesia

Kompas.com - 13/11/2011, 01:39 WIB

Jakarta, Kompas - Para atlet Indonesia menggebrak hari kedua pengumpulan medali SEA Games XXVI, Sabtu (12/11), dengan merenggut 20 dari 44 emas yang ditawarkan. Atletik antara lain meraihnya di nomor bergengsi, lari 100 meter, dan karate langsung menuntaskan target lima emas.

Di Jakarta dan Palembang, sejumlah arena pertandingan bising oleh sorak-sorai dan lantunan yel-yel ratusan hingga ribuan penonton, meledak oleh tabuhan genderang, terompet, dan tepuk tangan saat atlet Indonesia memenangi pertandingan.

Di Gunung Pancar, Sentul, Bogor, misalnya, Pornomo dan Risa Suseanty meraih emas nomor downhill sepeda gunung. Keduanya disambut ratusan penggila sepeda yang gaduh memukul-mukulkan pompom stick mereka.

Perolehan emas juga diraih Indonesia di cabang karate (5 dari 7 emas), kano (1 dari 3), taekwondo (3 dari 7), dan menembak (1 dari 3). Di Jakabaring, para atlet sepatu roda menyapu bersih keempat emas yang disediakan.

Mengakhiri hari kedua, Indonesia memimpin dengan 22 emas, melampaui Singapura yang sudah menabung delapan emas, serta Thailand dan Vietnam yang mengumpulkan enam emas.

Manusia tercepat

Di Stadion Atletik, Jakabaring, ribuan penonton yang memadati tribune menyanyikan koor dan meneriakkan nama Serafi Anelis Unani dan Franklin Ramses Burumi seusai keduanya menyentuh finis sebagai manusia tercepat di nomor sprint 100 meter.

Sebelum start 100 meter putra, sprinter Thailand, Sondee Wachara, sesungguhnya paling dijagokan. Dia pernah mengukir waktu 10,30 detik. Dia tercepat dibandingkan finalis lainnya.

Namun, meski terlambat di saat pick up, menyusul bunyi letusan pistol start, Franklin unggul dalam akselerasi dan mampu mempertahankan kecepatan lebih baik dibandingkan dengan lawan hingga menyentuh finis. Dia pun diganjar emas dengan catatan waktu 10,37 detik, disusul Yeo Foo (Singapura) yang 10,46 detik. Wachara harus puas dengan perunggu dengan waktu 10,47 detik.

”Ini masih di bawah waktu terbaik saya. Semoga kembali meraih emas di 200 meter,” kata Franklin yang berumur 20 tahun itu.

Perjuangan Serafi bahkan lebih dramatis. Torehan waktunya saat melintasi finis sama dengan Sanrat Nongnuch (Thailand), 11,69 detik. Namun, juri memutuskan Serafi lebih dulu menyentuh finis.

”Satu tahun saya bersiap dan sekarang saya berhasil,” kata Serafi (22).

Dua emas atletik juga disumbang Triyaningsih di 10.000 meter putri dan Rini Budiarti di 3.000 meter halang rintang. Triyaningsih telah tiga kali berturut-turut menguasai nomor 10.000 meter SEA Games.

10 emas Umar Syarief

Di Senayan, karate berpesta emas dengan segala kisahnya. Trio tim kata bunkai, Faizal Zainuddin, Fidelys Lolobua, dan Aswar, menang telak 5-0 atas Myanmar di final. Inilah hattrick Indonesia di nomor itu.

”Kami senang, apalagi berhasil mengungguli Vietnam di penyisihan, lawan paling berat,” kata Fidelys. Kemenangan mutlak 5-0 di final juga dipersembahkan kata beregu putri atas Malaysia.

Masih di kata, Flenty Enoch merebut emas sekaligus memecahkan kebuntuan selama 12 tahun. Terakhir kali Indonesia meraih emas kata perseorangan putri SEA Games pada 1999.

Oleh KONI Pusat, karate ditargetkan merebut lima dari 17 emas yang disediakan. Target itu telah tuntas di hari perdana perhelatan cabang itu, kemarin.

Puncak pesta di Senayan berlangsung ketika karateka senior Umar Syarief memukul telak Sanphasit Chonlaphan 9-1 di final kumite kelas +84 kilogram. Inilah medali emas Umar yang ke-10 di ajang SEA Games.

Karateka berumur 34 tahun itu pun mengambil bendera Merah Putih dan membawanya bersujud di tengah tatami. Bertanding di mana pun, Umar memang selalu menyimpan Merah Putih di tasnya. Karateka yang telah memperkuat tim nasional sejak SEA Games 1997 ini memutuskan, inilah ajang terakhirnya sebagai atlet nasional.

”Saya sudah 14 tahun memperkuat timnas. Kaki saya sudah lima kali dioperasi, tiga di kaki kanan, dua di kiri. Ini yang terakhir,” katanya.

Senin (14/11), Umar masih berpeluang menyumbangkan satu emas pamungkas saat dia memperkuat tim dalam kumite beregu. Jika dia berhasil, prestasi itu akan menyamai pejudo Perry Pantouw dan perenang Richard Sambera yang menyumbang 11 emas sepanjang partisipasi mereka di SEA Games.

”Saya masih punya tugas, tanggung jawab di kumite beregu. Doakan berhasil. Saya akan lakukan yang terbaik. Di sini, saya mencari kebanggaan buat bangsa dan Tanah Air,” kata Umar sambil tetap mencengkeram bendera Merah Putih. Keringat masih membanjiri wajah dan membasahi bajunya.

(WAD/HLN/IRE/INK/MHD/ECA/MHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau