Di Jakarta dan Palembang, sejumlah arena pertandingan bising oleh sorak-sorai dan lantunan yel-yel ratusan hingga ribuan penonton, meledak oleh tabuhan genderang, terompet, dan tepuk tangan saat atlet Indonesia memenangi pertandingan.
Di Gunung Pancar, Sentul, Bogor, misalnya, Pornomo dan Risa Suseanty meraih emas nomor downhill sepeda gunung. Keduanya disambut ratusan penggila sepeda yang gaduh memukul-mukulkan pompom stick mereka.
Perolehan emas juga diraih Indonesia di cabang karate (5 dari 7 emas), kano (1 dari 3), taekwondo (3 dari 7), dan menembak (1 dari 3). Di Jakabaring, para atlet sepatu roda menyapu bersih keempat emas yang disediakan.
Mengakhiri hari kedua, Indonesia memimpin dengan 22 emas, melampaui Singapura yang sudah menabung delapan emas,
Di Stadion Atletik, Jakabaring, ribuan penonton yang memadati tribune menyanyikan koor dan meneriakkan nama Serafi Anelis Unani dan Franklin Ramses Burumi seusai keduanya menyentuh finis sebagai manusia tercepat di nomor sprint 100 meter.
Sebelum start 100 meter putra, sprinter Thailand, Sondee Wachara, sesungguhnya paling dijagokan. Dia pernah mengukir waktu 10,30 detik. Dia tercepat dibandingkan finalis lainnya.
Namun, meski terlambat di saat pick up, menyusul bunyi letusan pistol start, Franklin unggul dalam akselerasi dan mampu mempertahankan kecepatan lebih baik dibandingkan dengan lawan hingga menyentuh finis. Dia pun diganjar emas dengan catatan waktu 10,37 detik, disusul Yeo Foo (Singapura) yang 10,46 detik. Wachara harus puas dengan perunggu dengan waktu 10,47 detik.
”Ini masih di bawah waktu terbaik saya. Semoga kembali meraih emas di 200 meter,” kata Franklin yang berumur 20 tahun itu.
Perjuangan Serafi bahkan lebih dramatis. Torehan waktunya saat melintasi finis sama dengan Sanrat Nongnuch (Thailand), 11,69 detik. Namun, juri memutuskan Serafi lebih dulu menyentuh finis.
”Satu tahun saya bersiap dan sekarang saya berhasil,” kata Serafi (22).
Dua emas atletik juga disumbang Triyaningsih di 10.000 meter putri dan Rini Budiarti di 3.000 meter halang rintang. Triyaningsih telah tiga kali berturut-turut menguasai nomor 10.000 meter SEA Games.
Di Senayan, karate berpesta emas dengan segala kisahnya. Trio tim kata bunkai, Faizal Zainuddin, Fidelys Lolobua, dan Aswar, menang telak 5-0 atas Myanmar di final. Inilah hattrick Indonesia di nomor itu.
”Kami senang, apalagi berhasil mengungguli Vietnam di penyisihan, lawan paling berat,” kata Fidelys. Kemenangan mutlak 5-0 di final juga dipersembahkan kata beregu putri atas Malaysia.
Masih di kata, Flenty Enoch merebut emas sekaligus memecahkan kebuntuan selama
Oleh KONI Pusat, karate ditargetkan merebut lima dari 17 emas yang disediakan. Target itu telah tuntas di hari perdana perhelatan cabang itu, kemarin.
Puncak pesta di Senayan berlangsung ketika karateka senior Umar Syarief memukul telak Sanphasit Chonlaphan 9-1 di final kumite kelas +84 kilogram. Inilah medali emas Umar yang ke-10 di ajang SEA Games.
Karateka berumur 34 tahun itu pun mengambil bendera Merah Putih dan membawanya bersujud di tengah tatami. Bertanding di mana pun, Umar memang selalu menyimpan Merah Putih di tasnya. Karateka yang telah memperkuat tim nasional sejak SEA Games 1997 ini memutuskan, inilah ajang terakhirnya sebagai atlet nasional.
”Saya sudah 14 tahun memperkuat timnas. Kaki saya sudah lima kali dioperasi, tiga di kaki kanan, dua di kiri. Ini yang terakhir,” katanya.
Senin (14/11), Umar masih berpeluang menyumbangkan satu emas pamungkas saat dia memperkuat tim dalam kumite
”Saya masih punya tugas, tanggung jawab di kumite beregu. Doakan berhasil. Saya akan lakukan yang terbaik. Di sini, saya mencari kebanggaan buat bangsa dan Tanah Air,” kata Umar sambil tetap mencengkeram bendera Merah Putih. Keringat masih membanjiri wajah dan membasahi bajunya.