SEA Games, Ayo Indonesia!

Kompas.com - 15/11/2011, 05:46 WIB

Kami sudah mencium juara umum, teruskan!!! (pandu). Indonesia pasti bisa juara karena bermain di kandang (justin tj). Ayo Indonesia… Buktikan kalau kita bisa menjadi juara!!! GO.. GO.. GO Indonesia!!! (Alfin). Ayo atlet Indonesia kami disini selalu mendukungmu maju terusss pantang mundur (diky).

Dukungan untuk kontingen Merah Putih berdatangan dari seluruh bangsa Indonesia. Semua menaruh harapan besar pada para atlet yang berlaga dalam SEA Games XXVI, 11-22 November, di Jakarta dan Palembang.

eterlambatan persiapan cukup membuat banyak kalangan khawatir. Semua hanya bisa berharap agar berbagai kekurangan dan persoalan teknis terselesaikan sehingga tak mengganggu jalannya SEA Games.

Ini bukan pertama kalinya Indonesia jadi tuan rumah SEA Games. Sebelumnya, Indonesia jadi penyelenggara pesta olahraga itu pada 1979, 1987, dan 1997. Selama menjadi tuan rumah, Indonesia menyabet gelar juara umum. Tak mengherankan, banyak yang berharap untuk mengulang kesuksesan itu.

Seperti harapan Fatah Baginda Gordy (18) dari Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Dia berharap Indonesia menjadi juara umum dalam SEA Games XXVI.

”Memang ada ketidaksiapan sebelumnya, tapi mudah-mudahan bisa juara,” ucapnya.

Bagaimanapun, pencapaian prestasi Indonesia bergantung pada para atlet dan tim secara keseluruhan. Baginda melihat para atlet cukup siap, pembinaan sudah dilangsungkan sejak lama.

”Asalkan mereka tidak terpengaruh dengan ketidaksiapan panitia sebelum SEA Games,” tuturnya.

Sebab, dia menganggap dukungan sarana dan prasarana juga berperan terhadap prestasi atlet. Apalagi, pada SEA Games kali ini, Indonesia jadi tuan rumah.

”Antusiasme masyarakat jadi dukungan, tetapi mungkin juga malah bikin atlet terbeban karena dituntut tampil lebih impresif,” papar Baginda.

Mahasiswa Jurusan Akuntasi USU itu melihat pergelaran SEA Games merupakan momentum kebangkitan Indonesia di bidang olahraga. Ini waktu yang tepat untuk menunjukkan, atlet Indonesia mampu berprestasi.

”Tunjukkan kepada negara-negara itu bahwa kita bisa dan mampu,” ujarnya bersungguh-sungguh.

Margaretha Okta Paulina juga berharap demikian. Mahasiswi semester VII Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, itu melihat SEA Games merupakan ajang pembuktian prestasi Indonesia kepada negara lain.

”Pemerintah juga bisa menjalin kerja sama dengan negara-negara peserta,” ujarnya.

Dari pemberitaan di berbagai media, Okta menilai kontingen Indonesia cukup siap berlaga di SEA Games. Dengan latihan keras, mereka akan mendulang kesuksesan.

”Kalau atlet-atlet sudah berlatih keras, berarti performa mereka akan bagus,” katanya.

Namun, bukan berarti kontingen ”Merah Putih” unggul di atas angin. Ada negara-negara yang mencatat prestasi cemerlang di beberapa cabang olahraga dan berpeluang menjadi kompetitor, yaitu Malaysia dan Thailand.

”Menurut saya, kita berpeluang besar di sepak bola, bulu tangkis, pencak silat, renang, dan atletik,” ujar Okta.

Oleh karena itu, pemerintah harus menghargai kerja keras para atlet. Selain memberikan bonus, sebaiknya ada jaminan kelangsungan masa depan mereka.

”Misalnya jaminan hari tua, jangan sampai terjadi lagi atlet menjual medalinya saat ia sudah tua, hanya untuk melanjutkan hidup,” ujar Okta.

Relawan

Secara khusus, dukungan yang mengalir bagi tim ”Merah Putih” berasal dari masyarakat Palembang. Rinda Anriani Darmawi (21) yang baru menamatkan studinya di Fakultas Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Bina Darma, misalnya, ikut ambil bagian sebagai relawan.

”Kami jadi tuan rumah, jadi benar-benar antusias dengan SEA Games,” ucapnya.

Antusiasme, misalnya, terlihat dari kesediaan para relawan berpartisipasi dengan menyumbangkan tenaga sebagai panitia. Bahkan, seluruh masyarakat juga sebisa mungkin menunjukkan dukungan.

”Seperti kesediaan mencari jalan alternatif karena pada jam-jam tertentu Jembatan Ampera ditutup,” ungkapnya.

Memang, kata Rinda, pada hari-hari menjelang pembukaan masih saja ada kekurangan di sana-sini. Namun, semua kekurangan itu dikebut agar selesai tepat waktu dan tak mengganggu penyelenggaraan SEA Games.

”Semua sudah disiapkan sebaik mungkin. Jadi, kita harus optimistis menjadi juara umum lagi,” ujarnya.

Dia menambahkan, penyelenggaraan pesta olahraga tersebut berpengaruh positif terhadap masyarakat Palembang. Selain dituntut untuk lebih disiplin dan memperhatikan kebersihan, mereka juga belajar bersikap ramah.

”Ada banyak tamu dari daerah dan negara lain, jadi kami harus menerima mereka,” ujar Rinda.

Dukungan lebih besar

Sementara pebalap sepeda Tonton Susanto (38) yang memperkuat Indonesia pada SEA Games sejak 1995 kembali masuk dalam tim. Dikenal sebagai ”Raja Tanjakan”, kali ini Tonton juga berperan sebagai motivator bagi atlet-atlet yunior.

”Apalagi kalau ada (atlet) yang baru pertama kali berlaga di SEA Games, nanti kami bimbing dia,” ungkapnya.

Sepanjang pengalamannya mengikuti SEA Games, Tonton juga memperkuat tim saat Indonesia menjadi tuan rumah pada 1997. Langganan berlomba di SEA Games, dia menganggap saat Indonesia menjadi tuan rumah menjadi pengalaman tersendiri.

”Dukungan kepada kami lebih besar,” ujarnya.

Dukungan terbesar terutama dari anak, istri, ayah, dan ibu. Kehadiran dan dukungan masyarakat meningkatkan motivasi atlet untuk memberikan yang terbaik.

”Saat kita menjadi tuan rumah, support dari masyarakat benar-benar menumbuhkan semangat,” ujar Tonton.

Demikian pula dalam SEA Games kali ini, dukungan masyarakat, termasuk komunitas balap sepeda, menjadi sangat berarti. Apalagi, untuk nomor tanjakan, pebalap Indonesia diuntungkan dengan lokasi yang biasa dipakai saat kejuaraan Alpen Trophy.

”Bedanya, di SEA Games, kami berlomba dengan orang-orang yang lebih berpengalaman,” kata Tonton yang mewaspadai perlawanan tim Malaysia dan Thailand.

Dia berharap, selama SEA Games, motivasi rekan-rekan atlet tak terganggu dengan hal-hal lain. Sebagai tuan rumah, semua dituntut lebih bersemangat dan memperlihatkan kepada masyarakat dan peserta dari negara lain bahwa kontingen Indonesia yang terbaik.

”Tunjukkan kita bisa menjadi juara umum, apalagi ada cabang olahraga yang baru dipertandingkan dan jadi kekuatan kita, seperti pencak silat,” katanya. Ayo Indonesia, kita bisa!

(FABIOLA PONTO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau