Kami sudah mencium juara umum, teruskan!!! (pandu). Indonesia pasti bisa juara karena bermain di kandang (justin tj). Ayo Indonesia… Buktikan kalau kita bisa menjadi juara!!! GO.. GO.. GO Indonesia!!! (Alfin). Ayo atlet Indonesia kami disini selalu mendukungmu maju terusss pantang mundur (diky).
eterlambatan persiapan cukup membuat banyak kalangan khawatir. Semua hanya bisa berharap agar berbagai kekurangan dan persoalan teknis terselesaikan sehingga tak mengganggu jalannya SEA
Ini bukan pertama kalinya Indonesia jadi tuan rumah SEA Games. Sebelumnya, Indonesia jadi penyelenggara pesta olahraga itu pada 1979, 1987, dan 1997. Selama menjadi tuan rumah, Indonesia menyabet gelar juara umum. Tak mengherankan, banyak yang berharap untuk mengulang kesuksesan itu.
Seperti harapan Fatah Baginda Gordy (18) dari Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Dia berharap Indonesia menjadi juara umum dalam SEA
”Memang ada ketidaksiapan sebelumnya, tapi mudah-mudahan bisa juara,” ucapnya.
Bagaimanapun, pencapaian prestasi Indonesia bergantung pada para atlet dan tim secara keseluruhan. Baginda melihat para atlet cukup siap, pembinaan sudah dilangsungkan sejak lama.
”Asalkan mereka tidak terpengaruh dengan ketidaksiapan panitia sebelum SEA Games,” tuturnya.
Sebab, dia menganggap dukungan sarana dan prasarana juga berperan terhadap prestasi atlet. Apalagi, pada SEA Games kali ini, Indonesia jadi tuan rumah.
”Antusiasme masyarakat jadi dukungan, tetapi mungkin juga malah bikin atlet terbeban karena dituntut tampil lebih impresif,” papar Baginda.
Mahasiswa Jurusan Akuntasi USU itu melihat pergelaran SEA
”Tunjukkan kepada negara-negara itu bahwa kita bisa dan mampu,” ujarnya bersungguh-sungguh.
Margaretha Okta Paulina juga berharap demikian. Mahasiswi semester VII Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, itu melihat SEA Games merupakan ajang pembuktian prestasi Indonesia kepada negara lain.
”Pemerintah juga bisa menjalin kerja sama dengan negara-negara peserta,” ujarnya.
Dari pemberitaan di berbagai media, Okta menilai kontingen Indonesia cukup siap berlaga di SEA Games. Dengan latihan keras, mereka akan mendulang kesuksesan.
”Kalau atlet-atlet sudah berlatih keras, berarti performa mereka akan bagus,” katanya.
Namun, bukan berarti kontingen ”Merah Putih” unggul di atas angin. Ada negara-negara yang mencatat prestasi cemerlang di beberapa cabang olahraga dan berpeluang menjadi kompetitor, yaitu Malaysia dan Thailand.
”Menurut saya, kita berpeluang besar di sepak bola, bulu tangkis, pencak silat, renang, dan atletik,” ujar Okta.
Oleh karena itu, pemerintah harus menghargai kerja keras para atlet. Selain memberikan bonus, sebaiknya ada jaminan kelangsungan masa depan mereka.
”Misalnya jaminan hari tua, jangan sampai terjadi lagi atlet menjual medalinya saat ia sudah tua, hanya untuk melanjutkan hidup,” ujar Okta.
Secara khusus, dukungan yang mengalir bagi tim ”Merah Putih” berasal dari masyarakat Palembang. Rinda Anriani Darmawi (21) yang baru menamatkan studinya di Fakultas Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Bina Darma, misalnya, ikut ambil bagian sebagai relawan.
”Kami jadi tuan rumah, jadi benar-benar antusias dengan SEA
Antusiasme, misalnya, terlihat dari kesediaan para relawan berpartisipasi dengan menyumbangkan tenaga sebagai panitia. Bahkan, seluruh masyarakat juga sebisa mungkin menunjukkan dukungan.
”Seperti kesediaan mencari jalan alternatif karena pada jam-jam tertentu Jembatan Ampera ditutup,” ungkapnya.
Memang, kata Rinda, pada hari-hari menjelang pembukaan masih saja ada kekurangan di sana-sini. Namun, semua kekurangan itu dikebut agar selesai tepat waktu dan tak mengganggu penyelenggaraan SEA Games.
”Semua sudah disiapkan sebaik mungkin. Jadi, kita harus optimistis menjadi juara umum lagi,” ujarnya.
Dia menambahkan, penyelenggaraan pesta olahraga tersebut berpengaruh positif terhadap masyarakat Palembang. Selain dituntut untuk lebih disiplin dan memperhatikan kebersihan, mereka juga belajar bersikap ramah.
”Ada banyak tamu dari daerah dan negara lain, jadi kami harus menerima mereka,” ujar Rinda.
Sementara pebalap sepeda Tonton Susanto (38) yang memperkuat Indonesia pada SEA
”Apalagi kalau ada (atlet) yang baru pertama kali berlaga di SEA Games, nanti kami bimbing dia,” ungkapnya.
Sepanjang pengalamannya mengikuti SEA Games, Tonton juga memperkuat tim saat Indonesia menjadi tuan rumah pada 1997. Langganan berlomba di SEA Games, dia menganggap saat Indonesia menjadi tuan rumah menjadi pengalaman tersendiri.
”Dukungan kepada kami lebih besar,” ujarnya.
Dukungan terbesar terutama dari anak, istri, ayah, dan ibu. Kehadiran dan dukungan masyarakat meningkatkan motivasi atlet untuk memberikan yang terbaik.
”Saat kita menjadi tuan rumah, support dari masyarakat benar-benar menumbuhkan semangat,” ujar Tonton.
Demikian pula dalam SEA
”Bedanya, di SEA Games, kami berlomba dengan orang-orang yang lebih berpengalaman,” kata Tonton yang mewaspadai perlawanan tim Malaysia dan Thailand.
Dia berharap, selama SEA
”Tunjukkan kita bisa menjadi juara umum, apalagi ada cabang olahraga yang baru dipertandingkan dan jadi kekuatan kita, seperti pencak silat,” katanya. Ayo Indonesia, kita bisa!