Prang! Aduh, cangkir kesayangan Ayah pecah. Alya takut sekali mengaku kepada Ayah. Nanti Ayah marah! Lain lagi dengan Syauqi. Semua teman mainnya asyik mengobrol tentang liburan ke luar negeri. Uugh... malunya, kalau jujur bilang bahwa ia belum pernah pergi ke luar negeri!
”Jujur
”Susaaahh!” Itulah jawaban beberapa teman yang duduk di kelas IV sampai kelas VI dari berbagai SD di Indonesia.
Sebetulnya ada bermacam-macam alasan yang membuat kita sulit selalu jujur. Namun, alasan yang paling sering adalah malu, takut dimarahi, takut dijauhi, takut tidak dipercaya.
Seperti pengalaman Alya dan Syauqi, biarpun susah dilakukan, mereka berdua sepakat bawah jujur itu indah, asyik, dan menyenangkan. Menurut mereka, jujur bisa membawa ketenangan dan perasaan lega.
Jujur itu memang indah dan asyik! Masalahnya, kita sering merasa takut jika berbuat salah. Rasa takut itulah yang membuat kita menjadi tidak jujur. Apalagi kalau kita membuat kesalahan yang cukup heboh.
Misalnya tidak lulus UAN! Waduh malunya! Kita pasti takut memberitahu Mama dan Papa. Ya, mereka pasti akan kecewa.
Ssstt... bukan cuma kita yang merasa takut dan malu, tetapi juga bapak-ibu guru, dan kepala sekolah kita! Jika banyak murid yang tidak lulus misalnya, kesannya mereka tidak pandai mengajar kita. Nah, karena itulah banyak juga ketidakjujuran dalam sistem ujian.
Bapak Bupati Bojonegoro Drs H Suyoto MSi adalah salah satu contoh tokoh yang sangat mengutamakan nilai kejujuran. Pak Bupati Suyoto, atau Kang Yoto panggilannya, berupaya mengembalikan sistem ujian yang jujur di sekolah.
Beliau tidak segan-segan menghukum kepala sekolah di Bojonegoro yang melanggar kejujuran ujian sekolah.
Menurut Kang Yoto, orangtua harus bisa menerima anak apa adanya. Setiap anak pada dasarnya jujur, yang penting anak sudah belajar dengan benar. Jangan menyontek atau tidak jujur demi mendapat nilai bagus. Nilai kecil yang dicapai dengan benar-benar belajar jauh lebih penting daripada nilai tinggi yang diperoleh dengan menyontek.
”Kalau sampai ada anak yang tidak lulus, jangan ditekan-tekan sampai dia stres. Justru anak itu harus kita temani, kita besarkan hatinya supaya dia mau belajar lebih keras saat ujiannya diulang,” kata Kang Yoto.
Kang Yoto menambahkan, orang bisa sukses bukan hanya karena nilai pelajaran yang tinggi, tetapi juga jujur! Jujur itu membawa kesuksesan! Kalau kita jujur, orang akan percaya sama kita. Kepercayaan itu kunci kesuksesan.
Memang tidak mudah untuk bersikap jujur. Namun, jika kita punya tekad untuk jujur, pasti kita bisa menjalankannya.
Dengan bimbingan Ibu Henny Supolo, beberapa teman berhasil menuliskan tips agar bisa bersikap jujur. Antara lain lebih rajin beribadah, lebih percaya diri untuk mengatasi malu, berani menanggung risiko, menerima diri kita apa adanya, pantang menyerah, dan lebih rajin belajar agar tidak perlu menyontek.
Pak Anies Baswedan, Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, menambahkan, kejujuran harus disampaikan dengan cara yang tepat dan pada waktu yang tepat pula. Jangan sampai kejujuran membuat teman tersinggung.
Pak Anies memberi contoh. Ada teman yang baru selesai berlari keliling lapangan. Ia berkeringat dan bau sekali, tetap langsung bermain dengan kita. Kalau kita jujur dan langsung berkata, ”Kamu bau!” Bagaimana perasaannya?
Pak Anies lalu memberi saran. Akan lebih baik kalau kita ajak dia ke sudut ruangan, menjauh dari teman-teman yang lain. Lalu kita bisikkan kepadanya, ”Bagaimana kalau kamu mandi dulu, baru main?” Begitu, lebih enak, kan?
Semua pernyataan jujur itu indah. Jujur itu susah, takut, malu, dan lain-lain tersebut terucap dalam acara Konferensi Anak Indonesia 2011 yang digelar November 2011.
Dalam konferensi yang diadakan majalah
Balkis Safira
Dhiya Adzkia Fadhila Haidar, kelas V Ibnu Ziyad, SDIT Jami’atul Muslimin, Dumai. ”Rupanya jujur itu membuat hatiku sejuk!”
Filzah Thahirah Amanina, kelas 6A SDIT Iqra 1, Bengkulu. ”Sekali kita berbohong, selamanya kita akan terus berbohong.”
Monica Maharani Aurora, kelas V, SDN 3 Cinyasag, Panawangan, Ciamis. ”Memang benar, berbuat jujur itu susah. Kita takut melakukannya. Takut dimarahilah, takut begitu, takut begini. Tetapi kalau kita sudah berterus terang, pasti akan dimaklumi!”