Jujur Itu Indah

Kompas.com - 04/12/2011, 03:29 WIB

Prang! Aduh, cangkir kesayangan Ayah pecah. Alya takut sekali mengaku kepada Ayah. Nanti Ayah marah! Lain lagi dengan Syauqi. Semua teman mainnya asyik mengobrol tentang liburan ke luar negeri. Uugh... malunya, kalau jujur bilang bahwa ia belum pernah pergi ke luar negeri!

”Jujur deh, berbuat jujur itu susah atau tidak?” tanya Ibu Henny Supolo, seorang pemerhati pendidikan anak dari Yayasan Cahaya Guru.

”Susaaahh!” Itulah jawaban beberapa teman yang duduk di kelas IV sampai kelas VI dari berbagai SD di Indonesia.

Sebetulnya ada bermacam-macam alasan yang membuat kita sulit selalu jujur. Namun, alasan yang paling sering adalah malu, takut dimarahi, takut dijauhi, takut tidak dipercaya.

Seperti pengalaman Alya dan Syauqi, biarpun susah dilakukan, mereka berdua sepakat bawah jujur itu indah, asyik, dan menyenangkan. Menurut mereka, jujur bisa membawa ketenangan dan perasaan lega.

 

Jujur itu memang indah dan asyik! Masalahnya, kita sering merasa takut jika berbuat salah. Rasa takut itulah yang membuat kita menjadi tidak jujur. Apalagi kalau kita membuat kesalahan yang cukup heboh.

Misalnya tidak lulus UAN! Waduh malunya! Kita pasti takut memberitahu Mama dan Papa. Ya, mereka pasti akan kecewa.

Ssstt... bukan cuma kita yang merasa takut dan malu, tetapi juga bapak-ibu guru, dan kepala sekolah kita! Jika banyak murid yang tidak lulus misalnya, kesannya mereka tidak pandai mengajar kita. Nah, karena itulah banyak juga ketidakjujuran dalam sistem ujian.

Bapak Bupati Bojonegoro Drs H Suyoto MSi adalah salah satu contoh tokoh yang sangat mengutamakan nilai kejujuran. Pak Bupati Suyoto, atau Kang Yoto panggilannya, berupaya mengembalikan sistem ujian yang jujur di sekolah.

Beliau tidak segan-segan menghukum kepala sekolah di Bojonegoro yang melanggar kejujuran ujian sekolah.

Menurut Kang Yoto, orangtua harus bisa menerima anak apa adanya. Setiap anak pada dasarnya jujur, yang penting anak sudah belajar dengan benar. Jangan menyontek atau tidak jujur demi mendapat nilai bagus. Nilai kecil yang dicapai dengan benar-benar belajar jauh lebih penting daripada nilai tinggi yang diperoleh dengan menyontek.

”Kalau sampai ada anak yang tidak lulus, jangan ditekan-tekan sampai dia stres. Justru anak itu harus kita temani, kita besarkan hatinya supaya dia mau belajar lebih keras saat ujiannya diulang,” kata Kang Yoto.

Kang Yoto menambahkan, orang bisa sukses bukan hanya karena nilai pelajaran yang tinggi, tetapi juga jujur! Jujur itu membawa kesuksesan! Kalau kita jujur, orang akan percaya sama kita. Kepercayaan itu kunci kesuksesan.

 

Memang tidak mudah untuk bersikap jujur. Namun, jika kita punya tekad untuk jujur, pasti kita bisa menjalankannya.

Dengan bimbingan Ibu Henny Supolo, beberapa teman berhasil menuliskan tips agar bisa bersikap jujur. Antara lain lebih rajin beribadah, lebih percaya diri untuk mengatasi malu, berani menanggung risiko, menerima diri kita apa adanya, pantang menyerah, dan lebih rajin belajar agar tidak perlu menyontek.

Pak Anies Baswedan, Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, menambahkan, kejujuran harus disampaikan dengan cara yang tepat dan pada waktu yang tepat pula. Jangan sampai kejujuran membuat teman tersinggung.

Pak Anies memberi contoh. Ada teman yang baru selesai berlari keliling lapangan. Ia berkeringat dan bau sekali, tetap langsung bermain dengan kita. Kalau kita jujur dan langsung berkata, ”Kamu bau!” Bagaimana perasaannya?

Pak Anies lalu memberi saran. Akan lebih baik kalau kita ajak dia ke sudut ruangan, menjauh dari teman-teman yang lain. Lalu kita bisikkan kepadanya, ”Bagaimana kalau kamu mandi dulu, baru main?” Begitu, lebih enak, kan?

Semua pernyataan jujur itu indah. Jujur itu susah, takut, malu, dan lain-lain tersebut terucap dalam acara Konferensi Anak Indonesia 2011 yang digelar November 2011.

Dalam konferensi yang diadakan majalah Bobo itu, 36 delegasi dari berbagai wilayah di Indonesia mendiskusikan soal kejujuran dan cara mengatasinya, termasuk Alya dan Sauqi.

 

Balkis Safira, kelas VI A SD I BA Palembang. ”Ternyata berbohong itu membuat kita gelisah dan tidak tenang.”

Dhiya Adzkia Fadhila Haidar, kelas V Ibnu Ziyad, SDIT Jami’atul Muslimin, Dumai. ”Rupanya jujur itu membuat hatiku sejuk!”

Filzah Thahirah Amanina, kelas 6A SDIT Iqra 1, Bengkulu. ”Sekali kita berbohong, selamanya kita akan terus berbohong.”

Monica Maharani Aurora, kelas V, SDN 3 Cinyasag, Panawangan, Ciamis. ”Memang benar, berbuat jujur itu susah. Kita takut melakukannya. Takut dimarahilah, takut begitu, takut begini. Tetapi kalau kita sudah berterus terang, pasti akan dimaklumi!”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau