Tren hiasan dan pernik- pernik natal seperti fashion
Tara (28), ibu rumah tangga, kebingungan memilih hiasan natal yang pas untuk ruang tengahnya. Saat berbelanja di Mal Taman Anggrek, Jakarta, Selasa lalu, berkali-kali ia mematut-matut hiasan lonceng di dua pohon natal yang dipajang.
”Yang warna putih cantik, tapi yang hijau juga klasik, tak pernah membosankan. Tapi, masa harus beli dua?” kata
Banyaknya pilihan model membuat orang akan tetap berburu hiasan natal meskipun masih menyimpan hiasan lama. Para produsen atau perajin pernik- pernik natal berlomba, saling adu kreativitas, mendapatkan peluang pasar.
August Sujianto, misalnya, selalu mencoba membuat pohon natal unik yang mengusung konsep seperti lampion. Tahun ini ia membuat pohon natal setinggi 2 meter, berbahan kertas, dengan tulang penyangga dari rotan.
Saat malam, pohon natal buatannya memendarkan cahaya, menerangi halaman kafe atau hotel dengan sinar temaram seperti layaknya lampion.
Tahun lalu August juga membuat lampion berbentuk boneka salju yang juga setinggi 2 meter. Bentuk lampion yang unik dan bertema Natal membuat ia kebanjiran order.
”Kami kewalahan. Tenaga kami terbatas dan hanya mampu membuat lima buah dalam sebulan. Akhirnya, tahun ini kami membuat pesanan untuk Yogyakarta saja,” kata August, pemilik kerajinan Kampoeng Lampion di Jalan Juanda, Malang, Rabu (21/12).
Tangan terampil Anton juga membuat lilin hiasnya laris manis di pasaran. Pemilik galeri Diandra Candle yang berbengkel kerja di Malang ini mengubah lilin doa yang putih polos menjadi bunga warna-warni berukir cantik.
Anton hanya perlu waktu 5 menit untuk mengukir sebatang lilin setinggi 20 sentimeter menjadi kembang dengan
Lilin-lilin cantik itu dijual dengan harga Rp 5.000-Rp 50.000 per buah di toko-toko cendera mata. Jejaring sosial, seperti Facebook, juga dimanfaatkan untuk memperluas pasar.
Lilin yang dibuat Anton ternyata banyak digemari di pasaran.
Menjelang Natal tahun ini, pesanan lilin hias Anton ikut membanjir.
Biasanya, Anton hanya membuat 200 batang lilin hias per hari. Kini, ia harus menambah 40 batang. Pesanan datang dari sejumlah kota, antara lain Surabaya, Probolinggo, dan Jakarta, bahkan dari Australia.
Rezeki Natal juga mengalir ke perajin terakota. Nurhayat bisa mendapatkan pesanan 1.000 unit hiasan sinterklas. Modalnya cukup cetakan sinterklas. Harganya dipatok lebih mahal daripada harga hiasan biasa.
”Kalau hiasan biasa, harganya Rp 1.000 per buah. Kalau model sinterklas begini, bisa jadi Rp 1.500 per buah,” kata Nurhayat, perajin dari Kasongan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dari tangan-tangan terampil mereka, dekorasi natal kini semakin unik dan cantik.(Siwi Yunita Cahyaningrum)