Nuansa natal

Pernik Unik nan Cantik

Kompas.com - 22/12/2011, 02:23 WIB

Tren hiasan dan pernik- pernik natal seperti fashion, tidak pernah mati. Setiap tahun selalu ada model baru yang menarik hati. Mau yang gaya klasik, berkilauan, atau unik, semuanya ada, tinggal disesuaikan dengan selera.

Tara (28), ibu rumah tangga, kebingungan memilih hiasan natal yang pas untuk ruang tengahnya. Saat berbelanja di Mal Taman Anggrek, Jakarta, Selasa lalu, berkali-kali ia mematut-matut hiasan lonceng di dua pohon natal yang dipajang.

”Yang warna putih cantik, tapi yang hijau juga klasik, tak pernah membosankan. Tapi, masa harus beli dua?” kata Tara, yang akan merayakan Natal di rumah barunya, sedikit bingung.

Banyaknya pilihan model membuat orang akan tetap berburu hiasan natal meskipun masih menyimpan hiasan lama. Para produsen atau perajin pernik- pernik natal berlomba, saling adu kreativitas, mendapatkan peluang pasar.

August Sujianto, misalnya, selalu mencoba membuat pohon natal unik yang mengusung konsep seperti lampion. Tahun ini ia membuat pohon natal setinggi 2 meter, berbahan kertas, dengan tulang penyangga dari rotan.

Saat malam, pohon natal buatannya memendarkan cahaya, menerangi halaman kafe atau hotel dengan sinar temaram seperti layaknya lampion.

Tahun lalu August juga membuat lampion berbentuk boneka salju yang juga setinggi 2 meter. Bentuk lampion yang unik dan bertema Natal membuat ia kebanjiran order.

”Kami kewalahan. Tenaga kami terbatas dan hanya mampu membuat lima buah dalam sebulan. Akhirnya, tahun ini kami membuat pesanan untuk Yogyakarta saja,” kata August, pemilik kerajinan Kampoeng Lampion di Jalan Juanda, Malang, Rabu (21/12).

Tangan terampil Anton juga membuat lilin hiasnya laris manis di pasaran. Pemilik galeri Diandra Candle yang berbengkel kerja di Malang ini mengubah lilin doa yang putih polos menjadi bunga warna-warni berukir cantik.

Anton hanya perlu waktu 5 menit untuk mengukir sebatang lilin setinggi 20 sentimeter menjadi kembang dengan lekukan 3 dimensi berwarna- warni.

Lilin-lilin cantik itu dijual dengan harga Rp 5.000-Rp 50.000 per buah di toko-toko cendera mata. Jejaring sosial, seperti Facebook, juga dimanfaatkan untuk memperluas pasar.

Lilin yang dibuat Anton ternyata banyak digemari di pasaran.

Menjelang Natal tahun ini, pesanan lilin hias Anton ikut membanjir.

Biasanya, Anton hanya membuat 200 batang lilin hias per hari. Kini, ia harus menambah 40 batang. Pesanan datang dari sejumlah kota, antara lain Surabaya, Probolinggo, dan Jakarta, bahkan dari Australia.

Rezeki Natal juga mengalir ke perajin terakota. Nurhayat bisa mendapatkan pesanan 1.000 unit hiasan sinterklas. Modalnya cukup cetakan sinterklas.    Harganya dipatok lebih mahal daripada harga hiasan biasa.

”Kalau hiasan biasa, harganya Rp 1.000 per buah. Kalau model sinterklas begini, bisa jadi Rp 1.500 per buah,” kata Nurhayat, perajin dari Kasongan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari tangan-tangan terampil mereka, dekorasi natal kini semakin unik dan cantik.(Siwi Yunita Cahyaningrum)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau