Film propaganda antikorupsi, Kita VS Korupsi,
”Mungkin saya bodoh. Mungkin juga saya salah. Tapi, kebodohan dan kesalahan saya itu tidak akan saya sesali sampai mati....”
Kata-kata itu keluar dari mulut Woko saat hendak menolak uang sogokan. Woko adalah pegawai rendahan dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Untuk menghidupi keluarga, ia harus menggadaikan radio transistor yang menjadi satu-satunya hiburan keluarganya.
Ketika seorang tauke menyuap Woko dengan setumpuk uang, istri Woko yang berada di balik kamar tengah menggendong erat bayinya yang sedang sakit. Ia perlu uang untuk menebus obat. Ia menyimak pembicaraan bos dan suami. Wajahnya cemas, bukan semata karena kondisi si buyung, melainkan menunggu keputusan Woko untuk menerima atau tidak uang sogokan tersebut. Woko memilih jujur pada hati nurani dan sang istri pun lega.
Di kemudian hari anak balita keluarga jujur itu tumbuh menjadi gadis dewasa yang bekerja di sebuah perusahaan. Ia menghadapi situasi serupa: disodori amplop. Dan dengan teguh ia berkata tidak.
Itu adegan cerita ”Selamat Siang Risa” yang merupakan bagian dari film Kita VS Korupsi. Tora Sudiro dengan meyakinkan memerankan Woko. Sosoknya yang sering terkesan selengean dalam beberapa film komedi itu, dalam film ini tampil serius sebagai lelaki teguh yang berpihak pada kejujuran.
Kita VS Korupsi
Kisah berasal dari lanskap tempat dan waktu yang berbeda-beda. ”Selamat Siang Risa”, misalnya, berlanskap era tahun 1974 ketika peristiwa Malari meletus. Sedangkan ”Aku Padamu” dan ”Psstt... Jangan Bilang Siapa-Siapa”
berlatar kehidupan kaum muda kota besar hari ini. Adapun ”Rumah Perkara” berlanskap masyarakat desa.
Film ini menekankan bahwa keteladanan merupakan faktor penting dalam penanaman nilai kejujuran. Risa mencontoh perilaku sang ayah yang bersih dan jujur. Tokoh gadis dalam cerita ”Aku Padamu” yang diperankan Revalina S Temat becermin pada sikap Pak Markun, guru jujur berbakti. Pak Markun (Ringgo Agus Rahman) berkukuh untuk tidak menyogok guna mendapatkan surat keputusan sebagai pegawai negeri sipil. Sampai meninggal, guru itu tidak diangkat sebagai PNS. Ia memilih jujur dan tetap mengabdi.
Kepada murid-muridnya, Markun suka mendongeng. Salah satu nasihat ia sisipkan dalam dongeng, ”Ketika kamu menyerah kepada ketidakjujuran, matahari akan menangis.... Dan halilintar akan tertawa....”
Nasihat itu tersimpan di benak muridnya sepanjang masa. Ketika sang murid itu menjadi gadis dan hendak menikah di Kantor Urusan Agama, calon mempelai pria yang diperankan Nicholas Saputra hendak menyogok petugas KUA. Namun, gadis itu dengan tegas menolak cara tersebut. ”Kalau tahu kamu begini (menyuap petugas), aku mikir dua kali untuk bilang ya pada kamu....”
Kita VS Korupsi
Gita (Alexandra Natasha), seorang remaja yang tumbuh dalam keluarga yang bersih dan jujur, malah menjadi seperti makhluk aneh di lingkungan remaja koruptif.
Film Kita VS Korupsi merupakan produksi kerja sama antara KPK, USAID, Transparency International Indonesia, Management Systems International, dan Cangkir Kopi. Bertindak selaku produser eksekutif adalah tokoh-tokoh yang selama ini terlibat dalam upaya pemberantasan korupsi, yaitu Busyro Muqoddas, Juhani Grossman, dan Teten Masduki.
Medium film dipilih untuk menyampaikan pesan antikorupsi karena sebagai budaya massa atau pop culture, film dianggap efektif untuk menjangkau khalayak.
Teuku Rifnu Wikana sebagai pemeran Pak Lurah dalam cerita ”Rumah Perkara” pada film Kita VS Korupsi berharap film ini bisa ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat. Di antara mereka mungkin juga termasuk koruptor. ”Mudah-mudahan ketika menonton, mereka (koruptor) bilang, ’Wah, ini gue banget ya...’!!”