Harga kontrak minyak utama untuk pengiriman April pada perdagangan Selasa (6/3) naik 13 sen menjadi 106,85 dollar AS. Sementara minyak jenis Brent turun 6 sen menjadi 123,74 dollar AS per barrel di London.
Harga minyak telah meningkat hingga 11 persen pada tahun ini menjadi 123 dollar AS per barrel. Penyebabnya, antara lain, tingginya permintaan, tetapi pasokan terbatas karena berbagai kejadian di Sudan, Suriah, dan tempat lain, termasuk Iran.
Banyak analis yang khawatir, perselisihan yang mengganggu pasokan minyak tersebut dalam beberapa pekan dapat membuat harga minyak jenis Brent naik hingga 150 dollar AS per barrel.
”Risiko yang dihadapi saat ini adalah kurangnya pasokan ditambah faktor geopolitik dengan ketegangan yang terus meningkat,” ujar Richard Soultanian, analis dari NUS Consulting.
Walaupun telah bertemu di Washington, AS, Presiden AS Barack Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperlihatkan belum ada tanda-tanda penyelesaian krisis nuklir Iran.
Obama menekankan opsi diplomasi untuk mencegah Iran memiliki bom nuklir. Netanyahu menekankan bahwa negaranya berhak melakukan penyerangan.
AS, Eropa, Israel, dan beberapa negara lain khawatir kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir. Iran merupakan eksportir minyak terbesar ketiga di dunia. Iran juga pernah mengancam tidak mengirimkan minyak ke Eropa.
Banyak analis juga khawatir bahwa konflik militer dapat mengurangi pasokan minyak global. Arab Saudi dan produsen minyak lain tidak memiliki kapasitas untuk cepat menutupi produksi minyak Iran yang mencapai 4 juta barrel per hari.
Di tempat lain, pembicaraan antara Sudan dan Sudan Selatan dilakukan di ibu kota Etiopia. Pertemuan tersebut bertujuan mencari penyelesaian tentang perselisihan soal pembagian rezeki minyak yang telah membuat hubungan kedua negara memanas.
”Menurut saya, lingkungan tidak merasakan perkembangan positif,” ujar negosiator dari Sudan Selatan, Pagan Amum.
Delegasi dari kedua belah pihak juga akan mendiskusikan isu perbatasan dan kewarganegaraan di Uni Afrika yang dipimpin oleh mantan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki.
Kedua negara tersebut bersitegang sejak Sudan Selatan berpisah dari Sudan Utara pada Juli 2011.
Minyak merupakan inti pembicaraan kedua belah pihak sejak Juba, nama ibu kota Sudan Selatan, mengambil 75 persen kekayaan minyak pada saat kemerdekaan. Akan tetapi, Khartoum (Sudan) menguasai pemrosesan dan fasilitas ekspor.
Juba menutup sumur minyak yang memproduksi 350.000 barrel minyak per hari pada Januari lalu. Penutupan dilakukan setelah Sudan menyita 800 juta dollar AS dari hasil minyak di Selatan.
Sudan Selatan menawarkan uang kurang dari 1 dollar AS untuk setiap barrel minyak. Sudan menginginkan bagian sebesar 6 dollar AS, ditambah renegosiasi jalur pipa serta biaya produksi.