Pasokan Kurang, Harga Melejit

Kompas.com - 07/03/2012, 02:26 WIB

Singapura, Selasa - Harga minyak mentah dunia terus naik mencapai 107 dollar AS per barrel di pasar Asia. Kurangnya pasokan minyak di beberapa tempat menyebabkan kelangkaan minyak terjadi. Selain itu, memanasnya geopolitik di kawasan Iran juga mendorong harga minyak naik.

Harga kontrak minyak utama untuk pengiriman April pada perdagangan Selasa (6/3) naik 13 sen menjadi 106,85 dollar AS. Sementara minyak jenis Brent turun 6 sen menjadi 123,74 dollar AS per barrel di London.

Harga minyak telah meningkat hingga 11 persen pada tahun ini menjadi 123 dollar AS per barrel. Penyebabnya, antara lain, tingginya permintaan, tetapi pasokan terbatas karena berbagai kejadian di Sudan, Suriah, dan tempat lain, termasuk Iran.

Banyak analis yang khawatir, perselisihan yang mengganggu pasokan minyak tersebut dalam beberapa pekan dapat membuat harga minyak jenis Brent naik hingga 150 dollar AS per barrel.

”Risiko yang dihadapi saat ini adalah kurangnya pasokan ditambah faktor geopolitik dengan ketegangan yang terus meningkat,” ujar Richard Soultanian, analis dari NUS Consulting.

Walaupun telah bertemu di Washington, AS, Presiden AS Barack Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperlihatkan belum ada tanda-tanda penyelesaian krisis nuklir Iran.

Obama menekankan opsi diplomasi untuk mencegah Iran memiliki bom nuklir. Netanyahu menekankan bahwa negaranya berhak melakukan penyerangan.

AS, Eropa, Israel, dan beberapa negara lain khawatir kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir. Iran merupakan eksportir minyak terbesar ketiga di dunia. Iran juga pernah mengancam tidak mengirimkan minyak ke Eropa.

Banyak analis juga khawatir bahwa konflik militer dapat mengurangi pasokan minyak global. Arab Saudi dan produsen minyak lain tidak memiliki kapasitas untuk cepat menutupi produksi minyak Iran yang mencapai 4 juta barrel per hari.

Di tempat lain, pembicaraan antara Sudan dan Sudan Selatan dilakukan di ibu kota Etiopia. Pertemuan tersebut bertujuan mencari penyelesaian tentang perselisihan soal pembagian rezeki minyak yang telah membuat hubungan kedua negara memanas.

”Menurut saya, lingkungan tidak merasakan perkembangan positif,” ujar negosiator dari Sudan Selatan, Pagan Amum.

Delegasi dari kedua belah pihak juga akan mendiskusikan isu perbatasan dan kewarganegaraan di Uni Afrika yang dipimpin oleh mantan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki.

Kedua negara tersebut bersitegang sejak Sudan Selatan berpisah dari Sudan Utara pada Juli 2011.

Minyak merupakan inti pembicaraan kedua belah pihak sejak Juba, nama ibu kota Sudan Selatan, mengambil 75 persen kekayaan minyak pada saat kemerdekaan. Akan tetapi, Khartoum (Sudan) menguasai pemrosesan dan fasilitas ekspor.

Juba menutup sumur minyak yang memproduksi 350.000 barrel minyak per hari pada Januari lalu. Penutupan dilakukan setelah Sudan menyita 800 juta dollar AS dari hasil minyak di Selatan.

Sudan Selatan menawarkan uang kurang dari 1 dollar AS untuk setiap barrel minyak. Sudan menginginkan bagian sebesar 6 dollar AS, ditambah renegosiasi jalur pipa serta biaya produksi. (AP/AFP/Reuters/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau