Moskwa, Rabu
Pernyataan oleh para penyelenggara protes itu menandai tekad untuk melanjutkan aksi protes menentang mantan mata- mata KGB itu, yang menang dalam pemilu presiden pada Minggu (4/3).
Namun, aksi kelompok bernama Liga Para Pemilih, yang menyatukan kaum nasionalis, liberal dan kiri, serta kelompok-kelompok independen, tidak memberikan banyak harapan. Gaung demonstran semakin hilang. Mereka tidak mampu mengubah sistem politik yang didominasi Putin walau sudah tiga bulan berdemonstrasi.
”Pemilu tidak adil karena penghitungan suara dan cara pengumpulan hasil pemilu ditandai kecurangan sistematis,” demikian pernyataan lembaga itu.
Liga Para Pemilih adalah organisasi payung bagi kelompok-kelompok aktivis. Organisasi ini dibentuk untuk menghadapi pemilu 4 Maret dan dipimpin oleh pesohor, seperti penyanyi rock Yuri Shevchuk dan novelis Boris Akunin.
”Kami menganggap pemilu sebuah penghinaan kepada masyarakat madani. Institusi kepresidenan, sistem pemilu, dan seluruh otoritas negara didiskreditkan,” demikian pernyataan organisasi itu.
Boris Akunin mengatakan pemilu presiden menjadi bencana bagi Rusia.
Komisi Pemilu Pusat mengatakan tidak ada keanehan dalam pemilu. Komisi mengatakan, Putin, yang pernah menjabat sebagai presiden pada periode 2000-2008, menang bersih.
Putin menjabat sebagai perdana menteri selama empat tahun (2008-2012). Kini dia memenangi masa jabatan enam tahun yang baru sebagai presiden. Dia bisa memerintah dengan periode yang sama seperti Leonid Brezhnev, yang berkuasa selama 18 tahun.
Juru bicara Putin, Dmitry Peskov, mengatakan kepada kantor berita Interfax, ”Semua penilaian telah dilakukan. Urusan soal ini sudah selesai.”
Hasil resmi memperlihatkan bahwa Putin memenangi lebih dari 63 persen suara. Namun, para pemantau internasional independen mengatakan, pelaksanaan pemilu itu telah berpihak kepada Putin.
Amerika Serikat dan Uni Eropa mengimbau agar semua laporan penyimpangan pemberian suara disidik. Akan tetapi, Amerika Serikat dan Eropa juga menegaskan perlu terus bekerja sama dengan Rusia.
Polisi menahan ratusan orang yang menghadiri unjuk rasa tanpa izin di Moskwa dan St Petersburg hari Senin. Polisi juga menahan para demonstran yang menolak pergi setelah melakukan aksi unjuk rasa di Moskwa, yang punya izin.
Namun, sebagian pemimpin oposisi mengatakan, mereka khawatir Putin akan memutuskan penggunaan kekuatan untuk menghabisi aksi-aksi protes.
Otoritas kota Moskwa, Rabu, mengizinkan 50.000 orang berkumpul hari Sabtu mendatang untuk memprotes kemenangan Putin.