Project pop

Ketika Kita Serius, Akan Ketahuan Usia Kita...

Kompas.com - 13/03/2012, 02:17 WIB

Pengantar Redaksi

Grup musik dengan lagu jenaka, Project Pop, tak lekang terus menghibur penggemarnya. Musik-musik menghibur menginspirasi banyak orang selama hampir 15 tahun. Baru-baru ini, mereka bahkan harus menerima kenyataan nama serupa grupnya juga muncul di negeri tetangga, yang dipelesetkan menjadi Projek Pop dan muncul di televisi Malaysia.

Project Pop bertahan paling lama dibandingkan dengan cikal bakal kelahiran mereka, yakni grup komedi asal Bandung, Padhyangan, tahun 1982. Demikian juga dengan P-Project—mulai muncul lagi belakangan—yang sempat sukses dengan berbagai acara di televisi. Grup yang beranggotakan Gumilar Nurochman (Gugum), Wahyu Rudi Astadi (Odie), Mochammad Fachroni (Oon), Kartika Rachel Panggabean (Tika), Djoni Permato (Udjo), dan Hermann Josis Mokalu (Yosi) ini menelurkan sejumlah album yang sukses di pasaran serta manggung di televisi dan banyak tempat. Baru-baru ini mereka juga menelurkan single ”Together Hamburger” yang bisa diunduh di YouTube.

***

Menarik sekali bila mendengar hasil karya kakak-kakak Project Pop. Apa yang membuat kalian survive dalam bermusik? (Rahman Rudyansyah, Jakarta)

Tika: Kita survive karena masih banyak inspirasi untuk dituangkan dalam sebuah lagu. Penggemar kita pun masih suka dan terus menanti karya-karya kita. Itu yang bikin kita pantang menyerah.

Udjo: Pertama-tama tentu saja karena anugerah Tuhan, he-he. Setelah itu, rasa ingin menghibur dan berkarya ala Project Pop-lah yang membuat kita menikmati perjalanan ini. Ada kesempatan, ada karya seperti satu siklus yang ingin kita pertahankan, pemirsa gembira, Project Pop bahagia.

Oon: Kita survive karena komitmen dari semua anggota Project Pop. Bahwa kita akan selalu bersama dan selalu berkarya buat masyarakat dan tidak mengenal kata menyerah.

Odie: Animo dari masyarakat sendiri masih menerima karya-karya kami. Itulah yang terus menyemangati kami untuk terus berusaha, bagaimanapun caranya, menghibur dan menghibur.

Yosi: Bagi saya, kita survive karena sejak semula kita tidak membatasi jenis karya musik kita ke dalam satu aliran musik tertentu. Kita juga update dengan tren dan aliran musik yang sedang digemari saat ini. Hal ini disertai dengan kemauan untuk lebih memprioritaskan ”kuping” pendengar daripada idealisme bermusik si pencipta lagu. Kita juga pantang menyerah.

Kebiasaan apa yang paling sering dilakukan sehingga Project Pop tetap kreatif sampai sekarang? (Kornelius Antono, Semarang)

Tika: Kebiasaan bercanda. Ngobrol ngalor-ngidul, mulai dari makanan, hobi, sampai gosip, bahkan ekonomi dan politik... he-he.

Udjo: Setuju, on!

Oon: Menertawakan teman, menertawakan imajinasi kita, dan selalu update dengan kehidupan di sekeliling kita.

Odie: Tidak ada kebiasaan khusus, sih. Kami hanya menjalankan keseharian. Jalan-jalan, bercanda, dan lainnya. Namun, terkadang dari keseharian itulah muncul ide kreatif....

Yosi: Setiap anggota juga mempunyai hobi, yang tentunya akan merangsang otak untuk tetap kreatif. Yosi hobinya main basket, main game, baca komik, dan nonton.

Kiat apa yang membuat hubungan di antara para personel Project Pop tetap terjaga, secara Jeng Tika cewek sendiri? Jika ada konflik di antara para personel, apa yang kalian lakukan agar tak pecah? (Achie, xxxx@yahoo.com)

Tika: Jadi gini lo, Jeng Achie, kita kan berenam isi kepalanya beda. Karakternya juga berbeda-beda. Nah, itu dibiarkan saja berkembang, Semua silakan mengeluarkan ”warnanya” masing- masing. Akhirnya kita malah bisa saling mengerti dan menghargai.

Selama ini sih, bicara dengan jujur sejujurnya satu sama lain jadi cara jitu untuk penyelesaian konflik kami.

Udjo: Kita enggak pernah bawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan. Kalau pengin curhat-curhat banget, ya tarik aja personel Project Pop yang dirasa paling cocok diajak bicara. Konflik paling banyak kalau kelaparan sebelum manggung, he-he.

Oon: Kita sudah seperti kakak-adik atau kembar enam. Jadi kalau ada masalah, ya selesaikan langsung, enggak omong di belakang. Jadi kalau ada masalah, ya tidak akan pecah karena kita bukan ban dalam, ha-ha.

Odie: Kita menempatkan diri sebagai saudara, bukan sebagai rekan kerja. Jadi bisa diibaratkan adik atau kakak di rumah yang kadang akur dan kadang berantem, tetapi yang pasti tak mungkin terpisahkan. Satu hal lagi yang membuat hubungan langgeng adalah jangan ”ngurusin rezeki orang”. Insya Allah, semua berjalan lancar.

Yosi: Komitmen terhadap tanggung jawab kita sebagai sebuah grup yang memiliki banyak penggemar dan persahabatan kita untuk menerima satu dengan lainnya apa adanya.

Memang Tika cewek sendiri, tapi kan kita baru tahu dia itu cewek baru-baru aja lo, ha-ha.

Tika kok minum air putih terus? Apa rencana Project Pop ke depan? (Torus, Jakarta Timur)

Tika: Masak saya minum air putih terus, saya juga makan, kok, he-he. Yang pasti, air putih sangat baik untuk kesehatan. Rencana Project Pop ke depan, pengin punya album lagi, terus bikin konser tunggal, terus bikin film lagi, terus bikin buku lagi. Pokoknya terus menghibur apa pun bentuknya. Terus habis itu beli saham Kompas, deh, ha-ha.

Udjo: Go international buat liburan, fokus ke lokal binti nasional pasar yang sudah pasti, hi-hi.

Oon: Rencana Project Pop ke depan adalah menghibur masyarakat sampai titik darah penghabisan. Merdeka!

Odie: Tika waktu itu mau coba minum air aki, tetapi segera kita cegah, ha-ha.

Yosi: Target lain adalah memperkuat networking dan meningkatkan pelayanan terhadap Popop (nama para penggemar Project Pop), khususnya di bidang media internet, social network, dan merchandise.

Rencana jangka panjang tentu saja berkaitan dengan menjaga eksistensi sambil terus menjaga dan meningkatkan mutu karya-karya kreatif kami.

Sampai kini Anda semua masih eksis, kompak, dan tidak kehabisan ide. Bagaimana kalian berproses hingga tetap solid dan tampak santai dalam setiap penampilan? Sementara banyak grup timbul dan tenggelan karena berbagai alasan. Tika, Anda hebat bisa terus mewarnai keceriaan grup ini dengan tampil apa adanya. (RS Kurni Setyawati, Bekasi)

Tika: Kami tampil apa adanya saja, saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang hebat itu bukan saya, melainkan kelima lelaki saya ini. Mereka justru warna dari keceriaan itu sendiri, bikin saya nyaman untuk tampil apa adanya.

Udjo: Mengikuti kalimat bijak ”syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik”.... Eh, ini lagunya d’Masip, yah? Maaappp....

Oon: Kita berproses secara alamiah, menganggap pemirsa adalah sahabat-sahabat kita yang bergembira bersama.

Odie: Santai dalam setiap penampilan dan selalu kompak, mungkin itu adalah keseharian kami. Kami selalu ingin menjadi diri sendiri, tanpa harus dikurangi atau ditambahi.

Yosi: Sepertinya kita sih melewati proses yang tidak jauh berbeda dengan kelompok atau grup lain, seperti kesulitan membuat single-single baru, konsolidasi dari tiap anggota, dan kepentingan pribadi versus kepentingan kelompok. Kita dapat bertahan karena komitmen dan persahabatan kuat.

Yang membuat kita santai adalah pengalaman pentas yang membentuk chemistry kita di atas panggung.

Apakah Project Pop memiliki rencana untuk bergaya ala Korea? (Singgih Wicaksono, Kebumen)

Tika: Di klip video Boy Band Cekat Cekot, kan kita memang bergaya ala K-pop, tetapi tetap dengan warna dan ala P-pop tentunya.

Udjo/Oon: Sebenarnya Korea itu meniru gaya kita karena umur Project Pop lebih tua dari anak-anak K-pop, ha-ha.

Odie: Tentu saja. Mengapa tidak? Sesuai dengan konsep kita, yaitu ”membawakan sesuatu yang sedang ngepop” saat itu. Hanya saja tentu kami akan mengemasnya ”ala” kami yang selalu harus menyisipkan unsur kreativitas dan komedi. Minimal bikin orang senyum, deh. Paling parah, ya, diketawain!

Yosi: Sebenarnya kita pernah bergaya ala B-band Asia, yaitu pada pembuatan klip video Ade, lihat deh di YouTube. Jadi, sangat memungkinkan buat Project Pop untuk bergaya apa saja, selama ada alasannya.

Kapan ya Project Pop bikin lagu yang agak serius? (Adi, xxxx@yahoo.com)

Tika: Kita kalau bikin lagu selalu serius, enggak pernah agak serius. Perhatikan tema-tema lagu kita. Banyak yang serius kok, tetapi cara penyampaiannya ala Project Pop, jadi terkesan enggak serius.

Udjo: Ketika kita serius, akan ketahuan usia kita, ha-ha.

Oon: Kita serius, lo, cuma orang lain ngetawain kita, he-he.

Odie: Sebenarnya ada beberapa karya/lagu Project Pop yang bertema serius, misalnya percintaan. Akan tetapi, karena kami mengusung konsep komedi kreatif, jadi tetap saja kita akan menyisipkan unsur komedinya.

Yosi: Ada beberapa lagu Project Pop justru berasal dari lagu serius yang dibuat menjadi lagu komedi. Contohnya, lagu ”Ade” (album Popok) dan lagu ”Bohong” (album You Got Ppop). Kedua lagu slow ini aslinya adalah lagu serius. Namun, karena produser kita meminta agar lagu tersebut dibuat ala Project Pop (dibuat menjadi lagu yang lucu), supaya tidak mengurangi keindahan dari lagu, diaransemenlah sedemikian rupa.

Hai kakak-kakak Project Pop, kok akhir-akhir ini jarang muncul di televisi, sih? Oh ya, kak, kok bisa sih Project Pop awet sampai sekarang? Apa sih rahasianya? (Veronica Gabriella, xxxx@yahoo.com)

Tika: Iya nih, akhir-akhir ini kita memang lagi jarang di televisi, soalnya lagi bantuin KPK nangkepin koruptor, he-he.

Bisa awet sampai sekarang, ehm... karena rahasia. Kita enggak boleh kasih tahu dong, he-he.

Udjo: Kita baru kelar UAN dan sibuk les-les gituh, jadi sibuk enggak sempat ke televisi. Lagian kalau sering-sering banget entar pada jadi enggak kangen.

Odie: Kami tidak hilang kok. Ibaratnya kalau di dunia persilatan, kami sedang bertapa agar menjadi lebih sakti, ha-ha.

Yosi: Kita jarang muncul di televisi karena kita tidak banyak memproduksi serta mempromosikan single dalam dua tahun terakhir ini.

Bagaimana, sih, cara kalian biar bisa bikin lagu kreatif gitu? Soalnya biasa, kan, orang suka pusing cari tema dan ujungnya cinta-cintaan mulu. Pernah minder enggak, sih, takut lagunya enggak laku? (Irene Felicia, Jakarta)

Tika/Udjo/Oon/Odie: Nah, untuk jawab yang ini, dua kakak yang paling banyak menciptakan lagu di Project Pop yang akan jawab, ya, Kak Gugum dan Kak Yosi.

Yosi: Saya (Kak Yosi) dan yang lainnya punya cara masing-masing dalam menciptakan lagu. Saya selalu memulainya dengan mencari tema yang menarik, tidak harus lucu. Namun, kalau bisa lucu, kenapa tidak?

Tentang minder karena takut lagunya enggak laku, sepertinya tidak, ya. Soalnya sebagai pencipta, saya harus selalu dalam sikap optimistis.

Apa arti Popop (nama penggemar Project Pop) buat Project Pop sendiri? (Joycelin Lukito, xxxx@yahoo.com)

Tika: Popop adalah salah satu alasan kita untuk tetap berkarya. Popop adalah bagian dari kesuksesan kita. Popop adalah keluarga kita.

Udjo: Pokoke sayang banget ama mereka, deh.

Oon: Brother and sister forever together happier ever after.

Odie: Awalnya kami namakan Poppers untuk Fans Club Project Pop ini. Namun, setelah kami tahu arti sebenarnya yang agak gimanaa gitu, akhirnya terciptalah nama ”Popop” itu. Namanya juga unik dan lucu.

Yosi: Satu analogi Popop, yaitu ”napas”. Popop adalah napas bagi Project Pop. Tanpa adanya Popop, Project Pop perlahan-lahan akan mati kehabisan napas.

Apa aliran musik yang dikembangkan di grup band ini? (Giovanni Jovian, Cirebon)

Udjo: Kita ambil semua genre yang kita suka dan cocok dengan lagu yang kita mau buat. Semua musik itu indah. Kita buat ala Project Pop.

Oon: Ralat ya, kita bukan band, melainkan grup vokal, he-he. Bisa dibentuk karena kita dikumpulkan oleh senior-senior kita dan diberi tugas untuk membuat suatu project tentang pop komedi yang bukan parodi. Aliran kita adalah progressive pop, yaitu aliran pop yang dipengaruhi aliran lain yang sedang populer.

Tika/Odie/Yosi: Untuk jawaban yang komplet tentang sejarah terbentuknya Project Pop, kamu bisa mengunjungi situs web kita: www.Project-Pop.com.

Bener lho, enggak ada grup band yang berparodi lucu seperti kalian. Lucu dan dinamis. Apalagi berani bikin album lagu yang nyentrik dan enak didengar kuping. Bagaimana sih resepnya? (Willy Soen, Solo)

Tika: Makasih ya pujiannya. Kita luruskan ya, Project Pop tidak berparodi. Kita bikin lagu ciptaan sendiri yang berunsur komedi.

Udjo: Jujur, banyak kok band atau grup penghibur lain yang lucu dan kreatif dengan gaya masing-masing. Project Pop bisa berbeda mungkin karena nyanyinya keroyokan. Penyanyinya sebanyak satu tim voli. Kalau masalah enak di kuping, mungkin adonannya pas ya sama selera kuping, enggak keasinan.

Oon: Resepnya, hmm, yang penting kita tertawa. Orang di sekeliling kita tertawa, berarti oke juga di masyarakat. Ini karena orang-orang di sekeliling kita adalah orang-orang yang jujur terhadap karya kita.

Odie: Tidak ada resep khusus, hanya kebetulan karya kami diterima masyarakat dan digemari berbagai kalangan.

Yosi: Bagaimana membuat musik kami enak didengar, buat saya, berhubungan dengan dua hal. Pertama, ”referensi” dan, kedua ”feeling”. Referensi berhubungan dengan bahan-bahan atau contoh-contoh lagu yang kita kumpulkan. Feeling berhubungan dengan rasa yang kamu rasakan ketika mendengarkan lagu tersebut.

Apa impian dan harapan Project Pop yang belum terwujud hingga saat ini? (Prawatya Endrawila Pawestri, Bekasi)

Tika: Impian yang belum terwujud, bikin konser tunggal dan punya acara televisi sendiri.

Odie: Impian dan harapan Project Pop, ingin tetap bisa berkarya dan bisa menghibur sekaligus karya-karya kami tetap diterima masyarakat.

Yosi: Impian dan harapan yang belum terwujud sampai saat ini adalah konser dan punya banyak pabrik, ha- ha. Konsernya saja dulu deh, yang ingin diwujudkan. Tahun ini rencananya.

Enggak nyangka sudah punya anak pun Project Pop tetap eksis. Hebring euy! Apa rahasia keeksisan kalian? Apa arti komitmen bagi setiap personel Project Pop? (Girindra Pradoto, Bogor)

Tika: Komitmen bagi saya tuh seperti sebuah tekad bulat, ya. Udah bertekad untuk bersama, ya mari jalan terus bersama. Mau susah atau senang, mari hadapi bersama....

Udjo: Alhamdulillah bangeut ya, rahasianya hati lapang, otak cemerlang. Perut kenyang, penonton senang…. Lo, kok jadi kayak iklan obat, ya?

Oon: Komitmen selalu berkarya bersama....

Odie: Kami tampil apa adanya saja dan selalu berusaha untuk bisa tetap menghibur. Komitmen, bagi kami, adalah sesuatu yang penting. Tanpa komitmen bersama, kami tidak akan mungkin bisa bertahan lebih dari 15 tahun hingga saat ini

Yosi: Rahasianya adalah menjaga kebersamaan dan konsisten menjaga mutu dari setiap karya. Harus selalu up to date dengan perkembangan tren yang sedang atau akan terjadi.

Bagaimana semua anggota grup Project Pop ini masih bisa bertahan? (Anna Febritta Intan Sari, Banten)

Tika: Yang paling utama, respect satu sama lain. Faktor historis juga jadi perekat. Kita sudah temenan dari kuliah, malah ada yang dari SMP dan SMA. Kita berjuang bersama dari zaman susah sampai sekarang Rasanya sudah seperti saudara ketimbang teman.

Oon: Kita sudah menganggap ini pekerjaan kita, yang harus kita jalani ketika suka ataupun duka....

Yosi: Memang betul, karena perbedaan karakter dan pemikiran dari setiap individunya, sekali-sekali kita terlibat juga dalam perdebatan sengit. Namun, kita sudah cukup lama berteman dan bekerja sama sebagai suatu kelompok sehingga kita menyadari bahwa perbedaan pendapat itu akan selalu ada.

Serbuan boy band dan girl band baru apa tidak membuat Project Pop khawatir ditinggalkan penggemarnya? Eh, kapan Project P main film lagi? (Farid Widodo, Banyumanik, Semarang)

Tika: Enggaklah, kita gak pernah merasa bersaing atau tersaingi sama grup-grup mana pun. Juga enggak takut ditinggal penggemar. Kalau mereka menambah idola mereka kan boleh-boleh aja, kita tetap santai dan hepi selalu. Doakan ya ada yang mau ajak kita main film lagi.

Udjo/Oon: Tidak, kita malah senang melihat yang muda-muda. Seger-seger. Jadi kita kebawa seger. Main film lagi, belum ada jadwal.

Yosi: Fenomena boy/girl band tidak membuat kita khawatir, tetapi justru malah suportif aja. Lihat aja single kita, ”Boy Band Cekat Cekot”. Iya kan? Kita soalnya tahu bahwa tren itu bukan untuk dimusuhi, tetapi justru harus membaur di dalamnya tanpa meninggalkan signature Project Pop.

Project Pop main film lagi? Wah itu sih tinggal menunggu ajakan saja....(ush)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau