Jakarta, Kompas -
”Kegagalan kemarin jadi pelajaran berharga buat kami. Sekarang target kami olimpiade dan tekad kami pasti ingin memberi hasil yang terbaik,” kata Butet yang bersama Nova Widianto meraih perak ganda campuran di Olimpiade 2008.
Menurut Butet, sejauh ini persiapan sudah cukup bagus. Selain menjaga kondisi fisik dan stamina, ia bersama Tontowi juga mulai mempelajari strategi calon lawan-lawannya dibantu pelatih mereka, Richard Mainaky.
Richard mengatakan, berbagai kelemahan Liliyana/Tontowi berusaha diperbaiki, seperti antisipasi perubahan strategi lawan dan kemampuan mengontrol emosi.
”Mereka harus lebih siap terhadap perubahan strategi lawan, seperti yang biasanya main bertahan tiba-tiba mengubah pola menjadi menyerang. Kekalahan mereka dari pasangan Thailand di final Indonesia Terbuka menjadi pelajaran yang bagus,” kata Richard.
Liliyana/Tontowi menjadi harapan terbesar Indonesia untuk menjaga tradisi emas di olimpiade. Pasangan pelatnas Cipayung ini sudah menunjukkan potensi besar karena mampu bersaing dengan pemain papan atas dunia lainnya, seperti dari China, Denmark, dan Korea Selatan.
Hasil di All England menjadi modal motivasi yang cukup kuat buat mereka. Sebab, pencapaian mereka di Wembley Arena cukup fenomenal. Setelah menunggu 33 tahun, akhirnya pasangan ganda campuran Indonesia bisa menjadi juara di ajang turnamen bulu tangkis paling bergengsi tersebut.
Dengan prestasi luar biasa itu, Liliyana/Tontowi menjadi tumpuan utama di olimpiade. Langkah mereka pun akan semakin mantap karena begitu menjuarai All England, keduanya sudah dijanjikan bonus oleh Chief de Mission tim Olimpiade Indonesia, Erick Thohir, pada Maret silam.
Erick memastikan bahwa bonus All England untuk Tontowi/Butet akan diberikan sebelum berangkat ke Olimpiade London. Rencananya, atlet bulu tangkis itu akan berangkat ke London pada 22 Juli.
Menurut dia, bonus untuk Tontowi/Liliyana sebenarnya bukan bonus karena menjuarai All England, tetapi sebagai insentif agar mereka lebih semangat di olimpiade.
”Indonesia sudah delapan tahun tidak juara All England, kebetulan olimpiade juga berlangsung di Inggris. Rasa percaya diri Tontowi/Liliyana harus didorong supaya meningkat,” ujarnya.
Dana pemberangkatan kontingen Indonesia ke Olimpiade London untuk sementara menggunakan dana dari sponsor sambil menunggu pencairan dana dari pemerintah.
Erick mengungkapkan, dana sponsor dibutuhkan antara lain untuk membayar uang muka hotel, tiket pesawat, dan sewa kendaraan.
”Target dana dari sponsor Rp 14 miliar, sekarang sudah ada Rp 7,5 miliar. Ini pertama kalinya kontingen Indonesia berangkat ke ajang multicabang memakai dana sponsor,” kata Erick seusai penandatanganan kerja sama dengan BNI sebagai sponsor kontingen Indonesia di olimpiade, Kamis.
Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengatakan, BNI menyiapkan dana Rp 1 miliar untuk menjadi sponsor kontingen Indonesia di Olimpiade London. Bank ”pelat merah” ini juga akan memberikan bantuan yang tidak berupa dana senilai Rp 4 miliar.(WAD/OTW)