Senin lalu, Departemen Jasa Finansial New York (DFS) menuduh bank Inggris itu mencuci uang minyak Iran sebesar 250 miliar dollar AS. Bank itu mengakui jumlah yang terlibat hanya 14 juta dollar AS saja.
Gubernur Bank Sentral Inggris Mervyn King, di London, Rabu (8/8), mengontraskan kasus StanChart ini dengan ketika otoritas keuangan di AS dan Inggris bersama-sama menyelidiki tentang manipulasi tingkat suku bunga antarbank London (LIBOR).
Dalam kasus LIBOR, Barclays sepakat membayar denda sebesar 453 juta dollar AS kepada Departemen Kehakiman AS, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka dan Komoditas AS, serta Otoritas Jasa Finansial Inggris.
”Dalam kasus LIBOR semua regulator terlibat, baik di AS maupun di Inggris, sehingga menghasilkan publikasi terkoordinasi yang keluar setelah investigasi diselesaikan dan mereka membuat penilaian,” kata King.
”Ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada kasus Standard Chartered. Hanya ada satu regulator yang mengungkapkan kasus ini ke publik ketika investigasi masih berlangsung,” kata King lagi.
Ternyata bukan King saja yang berang dengan pengumuman DFS. Departemen Keuangan AS dan Federal Reserve pun merasa kecolongan dan marah karena langkah DFS tersebut, seperti dikutip sumber-sumber di Kementerian Keuangan AS.
Pemimpin DFS Benjamin Lawsky telah berbicara dengan Departemen Keuangan AS dan StanChart mengenai denda untuk menyelesaikan masalah itu. Langkah Lawsky memang tidak biasa. Pada kasus-kasus sebelumnya, biasanya proses penyelidikan dan denda dilakukan dengan negosiasi untuk mengurangi rasa malu di muka umum.
StanChart menyatakan akan terus bekerja sama dengan DFS dan empat lembaga AS lainnya. Saham StanChart naik 7,3 persen pada perdagangan di London, setelah turun 16,7 persen, Senin.
Tindakan DFS terhadap StanChart menimbulkan kecurigaan ada upaya AS untuk mengalahkan London sebagai pusat finansial. Selain StanChart, sebelumnya AS telah menghukum bank Inggris lain seperti Barclays dan HSBC.
”Saya rasa ini adalah upaya terorganisasi di antara para petinggi AS. Washington tengah berupaya memenangi peperangan komersial dan berupaya memindahkan transaksi finansial dari London ke New York,” kata John Mann, anggota parlemen Inggris dari Partai Buruh.
Beberapa pengelola dana di Inggris yang memegang saham StanChart juga khawatir dengan langkah New York. Mereka bertanya-tanya, apa makna yang tersirat di balik langkah tersebut.
Seorang eksekutif perbankan Inggris menyatakan, dia melihat ada motivasi politik yang dilakukan para petinggi di Washington. Mereka dinilai iri dengan peran London dalam industri keuangan global yang berhasil menarik pemain besar dari AS seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley. Ketika ditanya apakah terlihat sebuah kegiatan anti-London pada otoritas AS dan ada upaya proteksi terhadap sektor perbankan, eksekutif itu mengiyakan.(Reuters/AFP/joe)