London Berang

Kompas.com - 09/08/2012, 03:01 WIB

LONDON, Rabu - Hubungan antara otoritas keuangan di Amerika Serikat dan Inggris menegang karena masalah Standard Chartered Bank. Gubernur Bank Sentral Inggris mengkritik otoritas New York yang menuduh StanChart telah melakukan pencucian uang dari Iran sebelum regulator lain merampungkan penyelidikannya.

Senin lalu, Departemen Jasa Finansial New York (DFS) menuduh bank Inggris itu mencuci uang minyak Iran sebesar 250 miliar dollar AS. Bank itu mengakui jumlah yang terlibat hanya 14 juta dollar AS saja.

Gubernur Bank Sentral Inggris Mervyn King, di London, Rabu (8/8), mengontraskan kasus StanChart ini dengan ketika otoritas keuangan di AS dan Inggris bersama-sama menyelidiki tentang manipulasi tingkat suku bunga antarbank London (LIBOR).

Dalam kasus LIBOR, Barclays sepakat membayar denda sebesar 453 juta dollar AS kepada Departemen Kehakiman AS, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka dan Komoditas AS, serta Otoritas Jasa Finansial Inggris.

”Dalam kasus LIBOR semua regulator terlibat, baik di AS maupun di Inggris, sehingga menghasilkan publikasi terkoordinasi yang keluar setelah investigasi diselesaikan dan mereka membuat penilaian,” kata King.

”Ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada kasus Standard Chartered. Hanya ada satu regulator yang mengungkapkan kasus ini ke publik ketika investigasi masih berlangsung,” kata King lagi.

Ternyata bukan King saja yang berang dengan pengumuman DFS. Departemen Keuangan AS dan Federal Reserve pun merasa kecolongan dan marah karena langkah DFS tersebut, seperti dikutip sumber-sumber di Kementerian Keuangan AS.

Pemimpin DFS Benjamin Lawsky telah berbicara dengan Departemen Keuangan AS dan StanChart mengenai denda untuk menyelesaikan masalah itu. Langkah Lawsky memang tidak biasa. Pada kasus-kasus sebelumnya, biasanya proses penyelidikan dan denda dilakukan dengan negosiasi untuk mengurangi rasa malu di muka umum.

StanChart menyatakan akan terus bekerja sama dengan DFS dan empat lembaga AS lainnya. Saham StanChart naik 7,3 persen pada perdagangan di London, setelah turun 16,7 persen, Senin.

Proteksionisme

Tindakan DFS terhadap StanChart menimbulkan kecurigaan ada upaya AS untuk mengalahkan London sebagai pusat finansial. Selain StanChart, sebelumnya AS telah menghukum bank Inggris lain seperti Barclays dan HSBC.

”Saya rasa ini adalah upaya terorganisasi di antara para petinggi AS. Washington tengah berupaya memenangi peperangan komersial dan berupaya memindahkan transaksi finansial dari London ke New York,” kata John Mann, anggota parlemen Inggris dari Partai Buruh.

Beberapa pengelola dana di Inggris yang memegang saham StanChart juga khawatir dengan langkah New York. Mereka bertanya-tanya, apa makna yang tersirat di balik langkah tersebut.

Seorang eksekutif perbankan Inggris menyatakan, dia melihat ada motivasi politik yang dilakukan para petinggi di Washington. Mereka dinilai iri dengan peran London dalam industri keuangan global yang berhasil menarik pemain besar dari AS seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley. Ketika ditanya apakah terlihat sebuah kegiatan anti-London pada otoritas AS dan ada upaya proteksi terhadap sektor perbankan, eksekutif itu mengiyakan.(Reuters/AFP/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau