Advertorial

Nyeri Dada Tak Hanya Dialami Orang Tua, Anak Muda Wajib Waspada!

Kompas.com - 30/09/2025, 15:24 WIB

KOMPAS.comBanyak anak muda mengira bahwa nyeri dada hanya masalah otot atau sendi. Padahal, kondisi ini juga bisa menjadi tanda awal gangguan jantung, meski seseorang masih berusia 20–30 tahun. Jika diabaikan, nyeri dada berpotensi mengancam jiwa.

Selain berasal dari gangguan otot dan tulang dada (musculoskeletal), nyeri dada pada usia muda dapat dipicu oleh masalah pencernaan, gangguan paru-paru, kelainan irama jantung, hingga penyakit jantung bawaan.

Risiko tersebut kian meningkat pada perokok, penderita obesitas, orang dengan kolesterol atau tekanan darah tinggi, serta mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Jantung Intervensi Mayapada Hospital Tangerang, Dr dr Pudjo Rahasto, SpJP (K), FIHA, FSCAI, mengatakan bahwa nyeri dada bukan keluhan yang bisa dianggap enteng, bila dirasakan di usia muda.

Baca Juga : Jangan Anggap Remeh Nyeri Dada, Segera Pastikan Penyebabnya di Chest Pain Unit Mayapada Hospital

“Tak jarang pasien muda datang dengan keluhan nyeri dada, jantung berdebar, atau sesak napas. Hasil evaluasi sering menunjukkan ada kelainan irama jantung atau gangguan pembuluh darah yang cukup serius,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (29/9/2025).

Oleh karena itu, segera periksakan diri bila merasa nyeri dada, meski masih berusia muda. Hal ini dilakukan guna mengetahui penyebab dan mencegah risiko yang lebih besar di kemudian hari.

Periksa gratis di Chest Pain Unit Mayapada Hospital

Masyarakat yang ingin memeriksakan gejala nyeri dada yang dialami dapat memanfaatkan layanan Chest Pain Unit Mayapada Hospital. Unit layanan ini menyediakan evaluasi cepat dan menyeluruh yang meliputi pengecekan tanda vital, rekam jantung (EKG), hingga konsultasi dokter.

Menariknya, layanan tersebut gratis bila hasil evaluasi awal tidak menemukan tanda gangguan jantung.

Sementara itu, pasien yang terindikasi memiliki masalah jantung akan mendapatkan rujukan cepat ke dokter spesialis atau subspesialis untuk penanganan lebih lanjut sesuai protokol medis.

Baca Juga : Masuk Usia Emas? Saatnya Lebih Peka terhadap Kesehatan Jantung

Chest Pain Unit merupakan bagian dari layanan unggulan Cardiovascular Center Mayapada Hospital yang terintegrasi dengan Cardiac Emergency 24 jam.

Jika gejala mengarah pada serangan jantung, tim Cardiac Emergency siap melakukan tindakan Primary PCI (pemasangan ring) dengan protokol door-to-balloon di bawah 90 menit. Protokol ini sesuai dengan standar emas penanganan serangan jantung.

Cardiovascular Center Mayapada Hospital juga mampu menangani masalah jantung secara komprehensif dan berstandar internasional, mulai dari pencegahan, deteksi dini, diagnosis, intervensi, hingga bedah dan rehabilitasi jantung.

Seluruh layanan itu didukung tim dokter multidisiplin berpengalaman serta teknologi mutakhir.

Baca Juga : Genetik vs Gaya Hidup: Mana yang Lebih Berpengaruh pada Kesehatan Jantung?

Untuk melakukan skrining jantung, pasien dapat membuat janji konsultasi melalui call center 150770 atau aplikasi MyCare milik Mayapada Hospital.

Aplikasi itu juga turut menyediakan artikel kesehatan jantung, tip gaya hidup sehat, hingga fitur pemantauan kesehatan personal.

MyCare juga bisa dihubungkan dengan aplikasi Health Access dan Google Fit pada smartphone. Fitur ini dapat membantu pengguna memantau langkah harian, kalori yang terbakar, detak jantung, hingga indeks massa tubuh (BMI).

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau